Selamat datang di Blog Opini Koran Indonesia! | About Us | Contact | Register | Sign In

Selasa, 24 November 2015

Mengubur Tradisi Keguruan

Komitmen yang mendasari ditetapkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah perhatian yang serius dan menyeluruh atas kualifikasi dan kompetensi guru. Undang-Undang Guru dan Dosen menginginkan agar guru makin profesional dan memegang teguh tradisi keguruan.

Lahirnya UU ini tentu tidak bisa dilepaskan dari berbagai peristiwa penting seputar guru dan sistem pendidikannya. Jujur perlu kita akui, pergantian sistem pendidikan guru di Indonesia terkesan tambal sulam dan selalu tanpa didahului penelitian serta evaluasi mendalam dan integral.

Bahkan, pergantian sistem pendidikan guru terkesan try and error, dengan kata lain kerap berdasarkan opini sehingga solusi yang diambil tidak menyentuh akar permasalahannya. Tengok saja konversi IKIP menjadi universitas pada medio 1999.

Perubahan ini didasarkan oleh adanya keresahan semakin biasnya eksistensi IKIP sebagai pencetak tenaga guru dan kerisauan rendahnya mutu lulusan IKIP terutama dalam penguasaan bidang studi. Kenyataannya, setelah lebih 10 tahun berjalan, angin segar perubahan ini tak kunjung berembus. Jangankan meluluskan calon guru yang memiliki keunggulan pedagogis sekaligus mumpuni dalam bidang studi, universitas eks-IKIP malah asik berlomba-lomba membuka jurusan murni sebagai insentif perluasan mandat.

Rendahnya komitmen atas keberlangsungan pendidikan guru dan makin kaburnya misi pendidikan guru ini merupakan bukti bahwa kita tak pernah serius mengurusi guru dan belum menempatkan guru sebagai ujung tombak dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, padahal IKIP telah diubah menjadi universitas. Bagi saya, hal ini tidak mengagetkan karena sebuah kebijakan yang lahir dari rahim opini hanya menyelesaikan masalah dengan masalah yang lebih besar.

Sebenarnya, permasalahan mendasar bagi guru dan sistem pendidikan keguruan bukan karena nama lembaganya harus diubah jadi universitas, bukan pula karena rendahnya "kesejahteraan" guru, tapi lebih disebabkan pudarnya tradisi keguruan dengan menyamaratakan kualifikasi profesi guru untuk lulusan kependidikan dan lulusan nonkependidikan, seperti termaktub dalam UU Guru dan Dosen.

Lantas, apakah dengan adanya UU ini semua permasalahan keguruan selesai? Meski telah ada peningkatan komitmen yuridis, sayang sekali peraturan perundangan mengenai guru belum menjadi solusi permasalahan rendahnya tradisi keguruan, malah makin menjauhkan guru dari kultur dan institusi keguruannya. Simak saja rumusan kualifikasi guru!

Guru wajib memiliki kualifikasi akademik yang ditunjukkan dengan ijazah sarjana (S-1) atau diploma empat (D-4) kependidikan maupun nonkependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi. Berarti, sarjana nonkependidikan tidak perlu repot-repot mengambil program akta IV karena tidak dibedakan lagi mana sarjana pendidikan (SPd) dan non-SPd. Nantinya, untuk menjadi guru, mereka harus mengikuti pendidikan profesi guru.

Pasal inilah yang menuai kontroversi bahkan para mahasiswa dari beberapa LPTK menilai telah terjadi diskriminasi profesi guru. Mungkin benar, guru-guru nonkependidikan lebih kaya akan pedagogical content knowledge, tapi belum tentu mereka mumpuni dalam hal craft knowledge kependidikan, kemampuan didaktik-metodik, dan roh mendidik yang merupakan keunggulan khas seorang guru. Tradisi dan iklim keguruan ini hanya bisa diwujudkan dalam suatu lembaga pendidikan yang sejak dini dipersiapkan untuk mencetak guru.

Tradisi ini terasah saat terjadi konteks sosial mahasiswa keguruan yang sedang belajar menjadi guru seperti yang diyakini Vygotski (1994) dan Bruner (1996). Jelas, calon guru dari nonkependidikan tak hidup dalam kultur dan tradisi seperti ini.

Selain itu, minat, model, muatan, dan kurikulum di IKIP sangat berbeda dengan universitas nonkependidikan. Mahasiswa yang memilih program keguruan tentu memiliki minat dan bercita-cita mulia untuk menjadi seorang guru, sedangkan mereka yang bercita-cita menjadi ilmuwan atau profesi di luar guru telah menentukan pilihan studinya di universitas nonkependidikan.

Jelaslah untuk menjadi guru perlu minat. Hal ini senada dengan prinsip profesionalitas pada Pasal 7 Ayat (1) UGD, "Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut, a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme ...."

Bagaimana jadinya jika seseorang guru menjalani profesinya tak sesuai minat karena untuk menjadi guru tak perlu kuliah di universitas keguruan? Hal ini akan mengerdilkan benih idealisme keguruan. Input perguruan tinggi adalah para siswa sekolah lanjutan tingkat atas dengan beragam bakat dan cita-cita.

Siswa yang mau menjadi insinyur, dokter, guru, dan pengacara tentu akan memilih perguruan tinggi dan program studi yang seirama dengan cita-citanya. Insinyur harus bergelar sarjana teknik, dokter bergelar sarjana kedokteran, dan guru wajib bergelar sarjana pendidikan. Dengan demikian idealisme keguruan akan mulai terpupuk sejak perkuliahan dan akan menjadi tradisi saat menjadi guru.

Tanpa tradisi keguruan, bangsa ini akan dibanjiri oleh guru-guru perlente, tiap akhir pekan shopping di mal mentereng dan ditemani oleh salah satu "murid kesayangannya", dan jauh dari pribadi yang layak digugu dan ditiru. Inilah bahaya yang mungkin terjadi jika regulasi guru hanya mengusung kesejahteraan materi.

Mestinya pendidikan profesi guru menjadi obat penyakit rendahnya penguasaan bidang studi guru. Dulu, penyakit ini salah satunya disebabkan input mahasiswa IKIP yang kualitasnya tidak sebaik universitas negeri nonkependidikan. Mereka menjadikan IKIP pilihan nomor dua bahkan nomor tiga karena profesi guru tidak menjanjikan secara finansial dan konstitusional.

Angin segar mulai berembus saat UU Guru dan Dosen diundangkan, misalnya, makin diminatinya program kependidikan di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta bahkan ada universitas eks IKIP yang peminatnya membeludak melebihi perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Artinya, lahirnya UU ini telah mampu membuka mata putra-putri terbaik bangsa untuk melirik profesi guru, dengan sendirinya input perguruan tinggi keguruan pun meningkat.

Alhasil, jika calon mahasiswa universitas keguruan berkualitas dan dipersiapkan khusus menjadi guru, kelak mereka akan menjadi guru yang mumpuni keilmuannya dan memegang teguh tradisi keguruan. Penyamarataan calon guru lulusan IKIP dan non-IKIP dalam pendidikan profesi guru telah menjadi raison d'etre bahwa di Indonesia pengadaan dan pengelolaan guru selalu dilakukan sambil lalu.

Sejatinya, calon guru mesti disiapkan dengan tujuan khusus menjadi guru. Sebab, guru yang hanya menjadi guru dengan secara kebetulan tidak akan menjadi guru yang betul-betul (Driyarkara 1980).

Sangat bijaksana jika pemerintah mengambil pelajaran dari keputusan perubahan IKIP menjadi universitas dengan menjadikan profesi guru sebagai profesi mulia yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi guru dan kuliah di lembaga keguruan. Jika tidak demikian, pemberlakuan UU Guru yang sebenarnya memiliki niat mulia untuk melahirkan guru-guru profesional dan memegang teguh tradisi keguruan dalam kenyataannya tampak sebagai upaya halus menghapus pendidikan guru sekaligus mengubur tradisi keguruan di Indonesia. n

*Deni Hadiana; Pendiri Indonesia Bermutu
Republika, Senin, 23 November 2015

Read More »
07.11 | 0 komentar

Kamis, 19 November 2015

Siapa Menuai Untung dari Bom Paris?

Pada saat investigasi teror Paris masih berlangsung, logika yang harus didahulukan untuk mencari kira-kira pelaku adalah siapa yang diuntungkan dari peristiwa tersebut. Siapa yang paling menuai keberuntungan, biasanya dia yang berpotensi menjadi pelaku.

Ditemukan paspor Suriah di salah satu penyerang, demikian rilis Republika yang mengutip Fox News. Penemuan paspor ini menjadi argumen pengunci penolak migran Suriah ke Eropa. Berbagai kicauan di media sosial mengecam pengungsi Suriah yang menurut mereka masuk Eropa untuk meneror ini. Bukalah artikel tentang bom Paris, bagian komentar penuh dengan penolakan akan pengungsi Suriah.

Mereka juga menyalahkan Angela Merkel, kanselir Jerman, yang membuka perbatasan negara untuk pengungsi Suriah. Mereka menuntut Merkel mengubah kebijakan pintu terbuka perbatasannya. Mereka juga minta komitmen awal Uni Eropa untuk menyerap pengungsi Suriah dibatalkan. Polandia negara yang paling awal menolak menerima pengungsi Suriah sesuai kuota yang ditetapkan Uni Eropa (the Economist, 14/11).

Saat ini ada ratusan ribu pengungsi Suriah di Eropa yang menunggu ditempatkan di negara tuan rumah. Sebagai catatan, ada 4 juta warga Suriah yang mengungsi karena konflik dalam negerinya. Dua juta lebih diterima Turki. Lebanon 1 juta lebih. Yordania dan Arab Saudi menerima masing-masing hampir setengah juta. Sisanya memencar di berbagai negara, termasuk Uni Eropa. Dari negara-negara Uni Eropa, hampir 200 ribu tercatat sebagai pengungsi. Jerman penerima terbanyak, setelahnya Swedia, sedangkan Prancis bersedia menerima 24 ribu pengungsi. Jumlah pengungsi Suriah yang berlabuh di Uni Eropa memang tidak sebanyak di Turki dan negara-negara Arab lainnya, tetapi tetap angka yang besar.

Penemuan paspor Suriah di dekat pelaku bom bunuh diri Paris tentu saja menjadi pukulan telak bagi perjuangan pengungsi Suriah yang berharap ingin melanjutkan kehidupan di Eropa. Sulit diterima logika kalau orang yang melarikan diri dari kekejaman perang menciptakan teror serupa di negara bakal lokasi hidupnya. Istilahnya, mencari keamanan di negeri orang, masak malah membuat teror.

Selain paspor Suriah, ada pengakuan video tanpa tanggal yang menyampaikan ancaman Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terhadap Prancis. Prancis tidak akan pernah damai dan tenteram sepanjang terus tergabung bersama militer Amerika Serikat mengebom wilayah penguasaan ISIS. Sehari sebelum teror di Paris, New York Times menulis Amerika meningkatkan serangan militer ke wilayah penguasaan ISIS yang kaya minyak.

Andai ISIS benar pelakunya, Amerika Serikat dan sekutu punya alasan jitu untuk menggempur secara hebat wilayah kekuasaan ISIS di Irak dan Suriah. Ada pertaruhan besar di sini. Amerika Serikat dan sekutu tidak akan membiarkan setetes darah warga negara mereka tumpah di tanahnya. Ada harga diri bangsa yang dipertaruhkan di sini. Dengan kekuatan Amerika sekarang—tanpa sekutunya—sekali serang, Amerika akan mampu menumbangkan ISIS.

Kekuatan militer Amerika tidak sebanding dengan ISIS. Militer Amerika terbaik sedunia. Amerika memiliki tentara aktif sebanyak 1,3 juta orang, ada 13.900 pesawat tempur, 920 helikopter, 20 pesawat penumpang, dan 72 kapal selam. Anggaran militernya mencapai Rp 9.000 triliun (610 miliar dolar AS) pada 2014, jauh lebih banyak daripada anggaran sembilan negara di bawahnya (Business Insider, 29/9).

Kekuatan ISIS, menurut Direktur Institut Jerman tentang Studi Radikalisasi dan Deradikalisasi (Girds) Daniel Koehler, berkisar 40 ribu-50 ribu orang. Angka perkiraan tertinggi adalah 200 ribu, tapi ISIS kehilangan banyak pasukannya dalam pertempuran (Independent, 28/6).

Jika Amerika Serikat ingin menumpas habis ISIS, logikanya, tidak sulit menghabisi ISIS sekali gempur. Ingat, militer Irak yang perkasa itu dihancurkan Amerika hanya dalam hitungan minggu. Kekuatan ISIS sangat lemah dibandingkan militer Irak. ISIS dengan mudah akan hancur jika membuat Amerika dan sekutunya sangat marah hingga memutuskan menumpas habis ISIS.

Benar saja. Pada Ahad (15/11) malam, Prancis menyerbu Raqqa, daerah dalam penguasaan ISIS. Raqqa dianggap sebagai ibu kota daerah kekuasaan ISIS. Ini penyerangan terhebat Prancis sejauh ini. Operasi ini dalam koordinasi bersama Amerika dan Prancis (Guardian, 16/11).

Prancis menggunakan 10 pesawat tempur. Dua puluh bom ditembakkan. Mereka menyerang lokasi rekrutmen ISIS, depot amunisi, dan kamp pelatihan serdadu ISIS. Sumber militer yang dikutip Associated Press menyebutkan, penyerangan ini sangat masif dan menghancurkan dua markas ISIS. Prancis punya pembenaran untuk melumatkan ISIS karena bom Paris dan video pengakuan itu.

Belum lagi efek domino lainnya. Teror Paris ini menyudutkan Muslim sedunia. Muslim merasa tertekan karena penyerangan itu. Rasa tertekan ini menyebabkan sebagian mereka menjauhi ISIS. Kampanye "Not in My Name" bahkan sudah marak di media sosial. Kampanye ini menolak cara ISIS berjuang. Kampanye ini untuk menunjukkan bahwa mereka secara ideologi bercerai dengan ISIS.

Dahulu di Indonesia lumayan banyak akun media sosial yang menunjukkan dukungan pada ISIS. Sekarang, di beberapa kawasan perumahan ada poster yang menolak ISIS. Asumsinya, di daerah sekitar poster diketahui ada pendukung ISIS sehingga ada yang merasa perlu menunjukkan lokasi perumahan mereka tidak mendukung ISIS melalui poster itu.

Teror-teror yang tampak sebagai bagian dari cara ISIS berjuang menurunkan kepercayaan Muslim pada ISIS. ISIS makin teralienasi dari komunitas Muslim dunia. Bagi ISIS ini berbahaya karena mereka menyandarkan diri dari "pasokan" mujahidin dari berbagai belahan dunia yang terpanggil secara ideologis untuk mendukung "khalifah".

Jika pengungsi Suriah—seperti yang diisyaratkan oleh penemuan paspor Suriah di dekat badan pelaku bom bunuh diri itu—tidak mendapatkan keuntungan dari teror Paris, jika ISIS seperti akun video tidak mendapat keuntungan dari teror Paris, siapa pelaku teror ini sebenarnya?

Ada alternatif lain. Jika ISIS yang beroperasi sekarang masih merupakan perpanjangan tangan CIA dan Mossad seperti yang diisyaratkan Hillary Clinton dalam wawancaranya dengan CNN dan Fox News dan seperti yang diyakini Noam Chomsky, maka pemaknaan apa yang bisa diambil dari peristiwa ini? Mengapa Prancis dan Amerika mengebom orang yang puluhan tahun lalu mereka latih dan danai untuk melawan Uni Soviet?

Di sini mungkin analisis lain muncul. Salah satu karakter ISIS yang mengkhawatirkan adalah sifat fluidity gerakannya. Sifat berubah dengan cepat dan tidak terkontrol. Awalnya, pembentukan ISIS bisa jadi hasil desain CIA dan Mossad. Namun, seiring dengan membanjirnya pengagum dan pengikut ISIS dari berbagai belahan dunia, kontrol CIA dan Mossad bisa jadi tidak sekuat yang lalu.

Jika saat ini ISIS tidak bisa dikendalikan, sedangkan mereka menguasai pipa minyak tempat minyak Suriah dan Irak mengalir dan menghasilkan Rp 700 miliar per bulan, tentu keberadaan ISIS jadi mengkhawatirkan. Sebagian tentu akan meragukan tangan tak terlihat CIA dan Mossad ini.

Namanya saja operasi intelijen, jika faktanya terang benderang tentu operasi gagal namanya. Kembalikan lagi saja pada siapa yang menuai untung dari kekacauan ini. Jangan lupa, Desember tahun lalu, Prancis mengakui Palestina sebagai negara. Agak terlambat, memang. Pengakuan ini membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berang.

*Maimon Herawati;  Dosen Jurnalistik Fikom Unpad; S-2 Kajian Palestina di Skotlandia
REPUBLIKA, 18 November 2015

Read More »
19.31 | 0 komentar

Tragedi Paris, Islam, dan Barat

Di tengah-tengah upaya Eropa menangani pengungsi dari Timur Tengah, Paris diguncang aksi kekerasan yang mengerikan (13/11). Celakanya, sebagian besar pelaku diyakini berasal dari Timur Tengah.

Salah satu implikasi dari tragedi Paris adalah menguatnya sentimen negatif warga Prancis khususnya dan Eropa pada umumnya terhadap Muslim, Arab, dan Islam. Pandangan kelompok ultranasionalis yang anti-Muslim memperoleh momentum. Menurut salah satu narasumber Al-Jazeera dalam acara Ma Wara al-Khabar, retorika anti-Muslim menguat drastis di media-media sosial di Prancis dua hari terakhir. Bahkan, respons sebagian kalangan mengarah pada tindakan-tindakan keras terhadap lembaga-lembaga keislaman.

Tak sedikit warga Prancis beretorika bahwa seolah-olah warga Muslim di sana bukan lagi sebagai warga Prancis. Padahal, mereka sudah berasimilasi dan menjadi warga negara negeri itu secara turun-temurun. Dan tak sedikit dari mereka memberikan kontribusi penting bagi negeri itu di berbagai bidang. Tema hubungan Barat dan Islam pascatragedi Paris ini menjadi isu yang kembali krusial.

Hubungan Islam dan Barat telah berlangsung dalam waktu yang panjang, namun hingga kini belum mampu menciptakan kebersamaan yang sungguh-sungguh, tulus, dan produktif. Sebaliknya, saling kebencian masih menghinggapi sebagian masyarakat Barat dan dunia Islam. Tragedi 11 September dan rangkaian tragedi Paris ini bagaimanapun merupakan potret kebencian luar biasa sebagian kecil umat Islam terhadap Barat. Umat Islam yang memiliki sikap dan pandangan sebagaimana pelaku barangkali sangat sedikit. Tetapi, tindakan mereka telah cukup menodai seluruh umat Islam.

Sebaliknya juga demikian. Kebencian Barat terhadap Islam tampaknya masih terpelihara. Pelarangan pemakaian jilbab tertentu, film penghinaan terhadap Nabi, pembakaran mushaf Alquran, hingga pembantaian rasial yang berulang kali terjadi menunjukkan sebagian orang Barat juga memendam kebencian amat dalam kepada orang lain, termasuk kepada umat Islam.

Ketidak-fair-an timbal balik

Hubungan Barat-Islam selama ini juga diwarnai oleh ketidak-fair-an secara timbal balik. Barat yang saat ini berada di depan mengklaim bahwa apa yang dicapainya selama ini murni hasil peradaban Barat, tidak terkait dan tidak ada andil dari orang lain. Mulai dari bidang-bidang ilmu pengetahuan, hasil-hasil teknologi, hingga nilai-nilai humanitarian yang tengah menggenangi dunia saat ini, didaku sepenuhnya. Jika kita mencoba sedikit saja mencari tahu mengenai sejarah bidang-bidang pengetahuan atau teknologi versi Barat dan sekarang banyak kita ikuti, selalu bertitik tolak dari Yunani Kuno yang kemudian melompat begitu saja ke masa modern.

Sejarah versi mereka menggambarkan seolah-olah dunia ini sunyi senyap dalam waktu lebih dari satu milinium. Padahal, pada masa itu sejarah umat Islam sedang menjulang dengan mengkreasikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan baru dan berbagai hasil peradaban. Bagaimana kemegahan, iklim akademik, dan tumbuhnya nilai-nilai kosmopolit di Baghdad, Andalusia, Cordova, Kairo, hingga Istanbul sama sekali terhapus dari sejarah versi Barat. Padahal, mereka pada awalnya "menyusu" dari peradaban di kota-kota ini.

Sikap tidak mengakui bahkan membuang peran orang lain adalah tindakan yang tercela. Ibarat seorang ilmuwan, maka ia telah melakukan plagiarisme yang menjiplak tanpa menyebut sumbernya dan dengan angkuh menyebutnya sebagai gagasannya sendiri. Ibarat anak, ia adalah anak durhaka. Celakanya, sikap itu tampaknya merupakan mainstream di dunia Barat, bahkan di kalangan para ilmuwannya. Lahirnya orang-orang semacam Karen Armstrong di Eropa atau John L Esposito di AS yang relatif lebih fair memandang umat Islam dan warisannya merupakan harapan bagi masa depan hubungan Barat-Islam. Tetapi, harus diakui keduanya masih anomali bagi masyarakat Barat sekarang.

Sikap dan pandangan sebagian umat Islam sekarang juga setali tiga uang. Di satu sisi, mereka mencaci maki habis Barat, memusuhi, bahkan berupaya menghancurkannya, bahkan tidak sedikit yang menggunakan cara-cara sadis untuk mencapai tujuan itu. Barat bukan hanya dituding selalu berupaya melakukan penghancuran sistematis dan terencana dalam skala besar terhadap umat Islam, melainkan juga melakukan penetrasi konspiratif ke dalam setiap relung kecil kehidupan setiap umat Islam.

Barat bukan hanya dituding berada di balik tragedi dunia Islam di Bosnia, Afghanistan, Pakistan, Irak, Bahrain, Libya, bahkan kelaparan di Tanduk Afrika, namun juga dianggap telah meracuni secara sengaja setiap generasi Muslim dengan berbagai cara. Bruinessen dalam penelitiannya di Bima pernah menemukan pandangan yang sulit dimengerti dari sebagian umat Islam di sana bahwa salah satu bentuk konspirasi Barat dan Yahudi terhadap Islam adalah penyebaran kaset-kaset Alquran. Menurut mereka, Barat dan Yahudi sengaja menyebarkan kaset-kaset itu untuk menjauhkan umat Islam dari para tuan guru atau ustaznya.

Pada sisi lain, hampir seluruh umat Islam menikmati hasil-hasil peradaban yang dikembangkan Barat saat ini, baik ilmu pengetahuan, hasil-hasil teknologi, seni, maupun sebagian nilai-nilai. Hampir di segala bidang ilmu dan teknologi modern, umat Islam sekarang bukanlah penemu atau "penciptanya", sebagian memang berupaya mempelajari dan mengembangkannya, namun sebagian besar hanya mengonsumsinya. Bahkan, tidak jarang mereka menggunakannya secara "ilegal" seperti tidak memenuhi kewajiban hak cipta atau hak meng-copy-nya. Sikap semacam itu jelas tidak fair dan tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Kesatuan kemanusiaan

Sebagai seorang Muslim biasa (bukan ilmuwan, tokoh, atau aktivis), penulis berpendapat bahwa perbaikan seharusnya dimulai dari diri sendiri, dari pandangan dan sikap umat Islam sendiri. Pengakuan umat Islam bahwa mereka sekarang jauh tertinggal dari Barat dan tidak lagi memegang supremasi dalam berbagai bidang sebagaimana masa lalu jauh lebih penting daripada mencaci maki dan menebar benci. Kita tidak berdosa mengucapkan selamat kepada Barat atas capaian-capaiannya saat ini, bahkan umat Islam secara fair pantas berterima kasih kepada mereka. Sebab, umat Islam juga banyak memanfaatkan temuan mereka sekaligus berterima kasih atas "kesediaan" mereka melanjutkan sebagian capaian-capaian umat Islam di masa kejayaannya. Pengakuan yang tulus tanpa mengurangi sikap kritis terhadap residu-residu peradaban Barat inilah yang justru akan menciptakan pandangan dan sikap yang fair dan produktif dalam mendorong umat Islam keluar dari berbagai ketertinggalan.

Di sisi lain, Barat idealnya juga mengembangkan sikap yang fair, adil, tidak eksploitatif, dan menindas. Bagaimanapun mereka tidak akan mencapai "kematangan" peradaban (bidang ilmu dan teknologi) seperti sekarang jika tidak didahului oleh peradaban-peradaban yang lain, seperti peradaban Cina, India, Mesir, Babilonia, Baghdad, Cordova, Andalusia, Yunani, Persia, dan lainnya. Peran peradaban Islam dalam hal ini tidak bisa diremehkan. Tak satu pun berhak mengklaim peradaban maju manusia saat ini sebagai miliknya sendiri. Semua hasil peradaban adalah simbol kesatuan umat manusia (al-wahdah al-insaniyyah), bukan umat Islam dan Barat saja, namun juga seluruh manusia.

*Ibnu Burdah;  Pemerhati Masalah Timteng dan Dunia Islam; Dosen Fak Adab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
REPUBLIKA, 16 November 2015

Read More »
09.05 | 0 komentar

Selasa, 17 November 2015

Terorisme tak Punya Agama

Republika; Senin, 16 November 2015, 13:00


Jumat (13/11) malam waktu setempat, Kota Paris, Prancis, dirundung duka dan diselimuti suasana mencekam. Kota yang terkenal karena keromantisannya itu justru dipenuhi dengan air mata setelah terjadi serangan teroris di enam lokasi yang berbeda.

Selama beberapa saat, terdengar rentetan suara tembakan jenis AK-47 dan ledakan di enam bagian kota, yaitu Rue de Charonne, Boulevard Voltaire, Bataclan Theater, Rue Fontaine du Roi, dan Le Petit Cambodge. Ratusan orang luka dan tewas akibat kejadian itu.

Selain banyaknya korban jiwa, serangan tersebut juga lagi-lagi melukai rasa keamanan dan toleransi antaragama di Prancis dan juga dunia internasional. Apalagi setelah muncul kabar bahwa kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas rangkaian serangan teror tersebut.

Karena ISIS kerap mengatasnamakan Islam dalam melakukan aktivitas terornya, serangan Paris membuat sebagian orang mengarahkan telunjuknya kepada Islam. Oleh mereka, umat Muslim yang berjumlah lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia dianggap ikut bertanggung atas serangan tersebut.

Tak mengherankan jika akibat serangan tersebut, masyarakat Muslim di Prancis kembali ketakutan, setelah sebelumnya kerap menjadi sasaran kemarahan masyarakat akibat penyerangan kelompok teroris terhadap kantor majalah Charlie Hebdo dan supermarket Yahudi di Paris, pada awal tahun ini.

Kita yakin, bahwa tak ada satu pun ajaran agama di dunia yang mengajarkan untuk melakukan kekerasan, khususnya Islam. Karena pada dasarnya, agama mengajarkan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhannya, dengan manusia lain, dan dengan lingkungannya.

Ajaran agama yang paling utama dalam hubungan itu adalah bagaimana setiap manusia dapat hidup dengan damai di dunia dan bisa mendapatkan kedamaian di akhirat. Karenanya, menjadi tak adil jika kemudian menggeneralisasi beberapa tindakan kekerasan (meskipun mengatasnamakan agama) sebagai bagian dari ajaran suatu agama tertentu.

September lalu, seorang akademisi Universitas California, Reza Aslan, pernah memberikan jawaban mengenai banyaknya pertanyaan dan bahkan tuduhan bahwa Islam identik dengan kekerasan. Dalam jawabannya, ia tidak menjawab dengan dalil atau doktrin agama apa pun, melainkan murni menggunakan logika sederhana.

"Islam tidak mempromosikan kekerasan. Islam hanya agama seperti setiap agama yang ada di dunia, tergantung pada apa yang kamu bawa. Jika kamu orang yang membawa kekerasan, kamu Islam, Yahudi, Kristen atau Hindu, akan tetap menjadi orang penuh dengan kekerasan," kata Aslan.

Pernyataan yang sama sebenarnya telah sempat juga disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama kepada delegasi yang hadir saat Konferensi Gedung Putih Melawan Kekerasan Ekstremisme, medio Februari lalu. Ia menolak jika aksi teror yang terjadi di berbagai belahan dunia kemudian dianggap sebagai bagian dari ajaran agama tertentu.

Ia juga menegaskan, saat ini dunia bukan tengah berperang melawan Islam, melainkan melawan mereka yang menyelewengkan Islam. "No religion is responsible for terrorism—people are responsible for violence and terrorism," kata Obama

Tak bisa kita mungkiri, masih ada orang yang merasa takut dengan Islam karena melihat aksi-aksi teror yang mengatasnamakan Islam. Namun, banyak masyarakat dunia yang justru melihat bahwa aksi teror sama sekali tak terkait dengan ajaran Islam, atau ajaran agama manapun. Bahwa terorisme tak memiliki agama.  

Coba saja tengok berbagai ocehan masyarakat di media sosial. Sebuah tanda pagar (tagar) atau hashtag #TerrorismHasNoReligion yang menjadi trending topic di Twitter menjadi bukti bahwa masyarakat memandang aksi terorisme tidak dengan sudut pandang agama. Melainkan murni sebagai aksi kejahatan yang tidak sesuai dengan prinsip kemanusiaan.

Read More »
14.16 | 0 komentar

Senin, 16 November 2015

Agama: Tradisi, Memori, dan Modernitas (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra


Setiap perubahan dalam suatu masa  dapat memunculkan tantangan serius tertentu pada agama. Karena itu, tidak heran jika kalangan ilmuwan dan akademisi—terutama yang bergerak dalam bidang agama dan perubahan sosial—memprediksi dan membangun berbagai teori tentang kian merosot dan bahkan menghilangnya agama dalam meningkatnya modernitas dalam berbagai lapangan kehidupan. Bukan tidak jarang prediksi dan teori itu meleset jauh.

Agama terus bertahan di tengah gelombang perubahan demi perubahan yang terkait dengan modernitas—termasuk globalisasi yang sering disebut para ahli sebagai salah satu puncak modernitas. Kebertahanan agama—khususnya agama wahyu; agama Yahudi, Kristianitas, dan Islam—terkait banyak dengan tradisi yang telah mapan selama berabad-abad. Tradisi ini tidak mudah berubah karena bersumber dari wahyu yang diyakini para penganut agama masing-masing sebagai permanen atau tidak berubah.

Tradisi agama mendapat tambahan kekuatan dengan ingatan bersama (collective memory) para penganutnya tentang doktrin dan praksis agama yang mendatangkan banyak kebaikan, manfaat dan keselamatan bagi umat manusia. Memori yang diabadikan dari waktu ke waktu dari satu generasi ke generasi berikutnya membuat tradisi keagamaan kian tidak mudah lenyap begitu saja.

Subyek tentang agama dengan tradisinya dan memori para penganutnya dalam tantangan modernitas masih menguasai imajinasi dunia akademis dan para ahli. Hal ini misalnya terlihat dari Konperensi selama tiga hari (9-11/11/2015) yang diselenggarakan Accademia Ambrosiana, Milan, Italia. Mengangkat tema ‘Tradizione, Memoria e Modernita’, Konperensi membahas tradisi ketiga agama Abramik (agama Yahudi, Kristianitas, dan Islam) dalam kaitan dengan memori penganutnya dalam menghadapi tantangan modernitas.

Penulis Resonansi ini mendapat kesempatan baik bukan hanya sebagai salah satu narasumber dalam Konperensi Akademi Ambrosiana ini, tetapi juga sekaligus sebagai pembelajar. Pembicaraan tentang tradisi, memori dan modernitas terkait agama Yahudi dan Kristianitas memberikan perspektif perbandingan yang kaya dengan tradisi Islam dan memori kaum Muslimin dalam menghadapi tantangan modernitas.

Dalam pembicaraan tentang tradisi versus modernitas dalam agama Yahudi misalnya, wahyu yang terkandung dalam kitab Torah (Taurat) memerlukan interpretasi baru untuk dapat memberikan jawaban terhadap tantangan modernitas. Tetapi interpretasi baru itu tidak bisa terlalu jauh dari teks, karena bisa dianggap otoritas ortodoksi sebagai ‘menyimpang’. Jadi, teks tetap penting bersamaan dengan perlunya pemahaman baru tentang konteks.

Salah satu kasus dalam konteks ini adalah tentang kedudukan perempuan. Secara tradisional kitab suci semacam Torah dan Injil mengajarkan pandangan bias terhadap perempuan. Dalam perspektif Torah misalnya, rahmat (blessing) Tuhan hanya diberikan kepada laki-laki, tidak kepada perempuan. Blessing ini dianggap sudah baku, yang kemudian diperkuat teks-teks yang dihasilkan ortodoksi keagamaan, pemimpin dan fungsionaris agama.

Dalam masa sekarang bukan hanya teks ayat kitab suci yang perlu dipertimbangkan kembali penafsirannya, tetapi juga mesti ditinjau ulang konteksnya—termasuk sejarah munculnya perumusan doktrin tertentu oleh otoritas ortodoksi. Pemahaman tentang blessing Tuhan hanya kepada laki-laki, tidak kepada perempuan adalah interpretasi subyektif para penafsirnya.

Jelas, sebelum kemunculan masa moderen dengan gagasan dan konsep tentang modernitas, perempuan menduduki posisi marjinal dalam masyarakat Yahudi, Kristiani dan bahkan juga Muslim. Tetapi dengan penyebaran modernitas, secara bertahap pandangan lebih positif terhadap perempuan mulai bertumbuh.

Dalam perspektif baru misalnya, perempuan dipandang memiliki kecenderungan spiritualistik lebih kuat dan lebih dalam daripada laki-laki. Karena itu, doktrin yang dihasilkan otoritas agama yang mendiskriminasikan perempuan dalam hal ibadah perlu dipertimbangkan kembali.

Dalam Islam misalnya ada fiqh yang menganjurkan perempuan untuk beribadah di rumah daripada ke masjid. Dalam perspektif baru, beribadah bersama antara jamaah laki-laki dan perempuan dapat memperkaya pengalaman spiritualitas. Hal ini tidak harus bertentangan dengan ortodoksi keagamaan.

Perspektif baru semacam ini memang bukan tanpa hambatan, khususnya dari otoritas ortodoksi keagamaan. Terdapat kecenderungan kuat otoritas keagamaan manapun mempertahankan penguasaan menyeluruh (totalitarianisme) terhadap pemahaman dan praksis doktrin yang telah menjadi tradisi dan melekat dalam memori penganutnya.

Karena itu setiap upaya memberikan pemaknaan baru terhadap tradisi dan memori selaras modernitas mengenai pengalaman historis keagamaan hampir selalu mendapat resistansi dan penolakan otoritas ortodoksi. Penekanan kuat pada teks dan konteks yang melibatkan hermeutika dalam menemukan perspektif baru mereka pandang berujung pada penyimpangan yang akhirnya menggoyahkan kitab suci dan bahkan agama itu sendiri.

Hasilnya, pergulatan antara tradisi dan memori pada satu pihak dengan modernitas bakal terus berlanjut. Namun dalam perjalanannya, kedua kubu ini juga dapat saling mengakomodasi dalam batas tertentu, sehingga tradisi dan modernitas dapat eksis berdampingan, walaupun bukan tanpa kecanggungan.

Read More »
09.11 | 0 komentar

Berjuang dengan Pena dan Senjata

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asma Nadia


Saya mendapat hadiah sebuah buku baru yang sengaja diterbitkan untuk memperingati Hari Pahlawan. Buku tersebut ditulis seorang lelaki tentang ayahnya, Moch. Achijat, yang dikenal sebagai salah satu aktor penting di balik tewasnya Jenderal Mallaby di pertempuran Surabaya. Tahun 1976, dalam usia 48 tahun, Moch. Achijat meninggal akibat kecelakaan dan dimakamkan di taman makam pahlawan Ngagel Surabaya.

Yang menarik dari buku ini adalah, sumber data  berasal--salah satunya--dari sebuah buku catatan kecil bersampul kulit kambing yang selalu dibawa sang pejuang selama masa gerilya. Buku harian ini ditemukan setelah istri Moch. Achijat meninggal,  2013, pada usia 80 tahun. Sebuah kotak kenangan menyimpan rapi catatan sejarah yang belum banyak terungkap, selama puluhan tahun sebelum akhirnya ditemukan.

Moch. Achijat adalah komandan Pasukan Alap-Alap. Ia memiliki hubungan  dekat dengan Bung Tomo dan Pak Yasin (pendiri Brimob).

Dalam buku kecilmya ia mencatat banyak hal, sebagian ditulis menggunakan   bahasa sandi. Di sana  tertulis nama-nama anggota pasukan elit yang dipimpinnya, lengkap dengan data nama orang tua mereka. Detail sederhana yang menunjukkan bahwa setiap anggota sudah siap mempertaruhkan nyawa, dan ketika mereka menemui ajal maka  anggota lain akan menyampaikan kabar duka ke orang tua yang bersangkutan.

Bahkan nama anggota Pasukan Alap-Alap tertera lengkap dengan spesialisasi yang mereka miliki. Ada sniper (penembak jitu) yang selain memiliki kemampuan menembak, juga andal  merakit dan merekayasa senjata. Terdapat pula pasukan khusus penyamaran, pengintaian, dan penyusupan. Tidak ketinggalan pasukan pelucutan/perampasan senjata, peluru, dan logistik musuh.

Tidak sembarang orang dapat bergabung dengan Pasukan Alap-alap Simokerto. Hanya orang-orang tertentu. Pada zaman sekarang mereka tak ubahnya pasukan elit militer. “Bisa bergabung dengan pasukan elite ini merupakan kebanggaan dan prestise tersendiri,” aku Pak Buhari, salah satu anggota pasukan siluman tersebut.

Pasukan Alap-Alap terdiri dari beragam latar belakang. Selain arek Suraboyo, ada anggota yang keturunan Cina, ada dua orang mantan anggota Gurka, bahkan  ada  beberapa orang Ambon mantan tentara KNIL. Pasukan ini banyak terlibat perang di garis depan, salah satunya pertempuran di depan gedung Internatio yang akhirnya menewaskan Jenderal Mallaby.

Sepak terjang pasukan yang dipimpin Achijat mungkin akan mudah terhapus sejarah seandainya tidak ada dokumentasi yang dibuatnya dalam buku kecil bersampul bahan kulit kambing. Kiprahnya pun tak bergema sepanjang buku itu disimpan  lebih dari setengah abad.

Dan sebenarnya banyak peran pahlawan lain yang  sejarah perjuangannya menguap sempurna hanya karena tidak ada catatan tentang mereka, atau tidak ada yang menuliskan kisahnya. Mencatat dan menulis, tidak kalah penting dari perjuangan mengangkat senjata itu sendiri.

Perjuangan di masa lalu yang tidak tercatat, tidak meninggalkan warisan pembelajaran bagi generasi sesudahnya. Lebih dari itu, kekuatan pena bukan mustahil bisa lebih kuat dari senjata.

Anne Frank hanya satu dari begitu banyak gadis kecil  yang ketakutan dan bersembunyi untuk menghindari penangkapan Nazi. Tapi kini rumah persembunyiannya menjadi salah satu museum yang paling ramai dikunjungi di Amsterdam. Semata karena ia menuliskan kehidupannya di buku harian selama bersembunyi. Buku harian yang kini dijadikan sebagai salah satu bukti sejarah kekejaman Nazi terhadap Yahudi.

Charles Darwin mengubah peta ilmu pengetahuan dan agama dimulai dengan tulisan. Ia awalnya mencatat dan menggambar semua hewan yang dilihatnya di berbagai wilayah. Lalu membuat kesimpulan dari semua catatannya. Karyanya menafikan penciptaan Tuhan. Sekalipun membuat kesimpulan salah, apa yang didokumentasikannya  telah  memperkuat atheisme dan sekularisme di dunia.

Kong Hu Chu menjadi filusuf yang paling mengakar di Cina juga karena kebiasaan mencatat. Ia menuliskan apa yang ada dalam pikiran, hati dan semua yang  dialaminya. Berkas catatannya menjadi gulungan kertas penuh dengan ilmu dan kebijakan yang kemudian diajarkan turun-temurun hingga menjadi tuntunan bagi masyarat Cina di masa lalu.

Baru-baru ini di Den Haag diadakan Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) yang mencari keadilan bagi korban pembantaian massal 1965. Jika saja semua ulama, santri, dan pejuang mencatat lengkap daftar korban kekejaman PKI di Indonesia, maka sidang nonformal tersebut akan memiliki sumber lain, dan tidak sepihak hingga mengarah pada kesimpulan berbeda.

Karena itu, berjuang dan abadikan dalam tulisan. Sebab hanya dengan demikian semangat dan prosesnya terus menjadi cahaya bagi generasi sesudahnya.

Read More »
09.04 | 0 komentar

Sabtu, 14 November 2015

Kolonialisme Selebritas

Asmadji As Muchtar; Wakil Rektor III Universitas Sains Al-Quran Wonosobo Jawa Tengah
Republika, Jumat, 13 November 2015


Tayangan langsung TV tentang prosesi pernikahan selebritas yang mewah selama berjam-jam dalam beberapa hari membuktikan bahwa di negeri ini telah terbentuk semacam kolonialisme selebritas. Hal ini tampaknya sengaja dirancang untuk menandingi tradisi pesta pernikahan putra-putri bangsawan di berbagai daerah di negeri ini.

Kolonialisme selebritas juga tampak dipertegas dengan munculnya sesi acara nasihat untuk mempelai yang diberikan oleh bukan tokoh agama, melainkan seorang musisi dengan gaya ringan penuh canda. Tampaknya, masyarakat Indonesia cukup permisif terhadap kolonialisme selebritas ini.

Buktinya, tidak ada aksi unjuk rasa menentangnya. Bahkan, tayangan langsung proses pernikahan itu meraih rating tinggi dengan bukti banyaknya sponsor atau selingan iklan.

Meski demikian, sempat muncul protes di media sosial dari masyarakat yang intinya menyayangkan penggunaan frekuensi publik yang dianggap tidak bermanfaat bagi publik, di samping lembaga resmi seperti Komisi Penyiaran Indonesia yang konon melakukan teguran keras terhadap pihak stasiun TV terkait.

Namun, adanya protes dan teguran keras itu justru membuat tayangan prosesi pernikahan selebritas yang mewah di TV semakin menarik perhatian publik. Bagi yang semula tidak menonton justru penasaran ingin menontonnya.

Ke depan, tampaknya kolonialisme selebritas akan semakin merajalela karena masyarakat menyukainya. Dalam hal ini, kehidupan selebritas di TV yang serbamewah gemerlapan menjadi daya tarik yang memesona bagi masyarakat miskin, yang notabene mayoritas di negeri ini.

Selanjutnya, masyarakat akan berlomba-lomba menjadi yang paling fasih menceritakan perincian tayangan pernikahan di TV, seperti siapa saja selebritas yang dikenalnya hadir di pesta tersebut. Pada titik ini, siapa yang paling banyak mengenal selebritas lewat TV akan merasa paling bangga. Sebaliknya, siapa yang paling tidak mengenal selebritas, dia akan dianggap kurang gaul sehingga akan merasa malu.

Kolonialisme selebritas pasti akan terus menjajah budaya bangsa karena yang dipentingkan hanya rating alias popularitas semata tanpa peduli, apakah pantas atau tidak pantas menurut etika di dalam kehidupan nyata.

Satu contoh paling jelas kolonialisme selebritas adalah cium pipi kanan dan pipi kiri disertai tangan saling merangkul ketika selebritas laki-laki bertemu selebritas perempuan tanpa rasa malu, atau bahkan justru merasa bangga disaksikan publik. Bagi masyarakat religius seperti mayoritas masyarakat Indonesia, hal ini sering dianggap pemicu dekadensi moral. Karena itu, selalu ada elemen masyarakat yang memprotesnya. Namun, karena yang diprotes hanya sedikit, hal itu tetap dan terus berlangsung.

Kolonialisme selebritas layak diprediksi bakal semakin menjajah budaya bangsa kita, termasuk mereduksi tata krama jika semakin banyak masyarakat kita bersikap latah atau meniru-niru segala sesuatu yang dipamerkan di TV. Sialnya, masyarakat kita memang mudah latah atau suka meniru gaya hidup selebritas yang sering muncul di TV, khususnya yang telah tercerabut dari akar sosial budayanya, seperti mereka yang disebut manusia urban yang sekarang makin banyak menghuni perumahan-perumahan baru di berbagai kota.

Misalnya, sekarang makin banyak perumahan baru yang dihuni keluarga pendatang yang cenderung bergaya hidup eksklusif. Jika menggelar pesta pernikahan di HOTEL atau gedung yang diundang bukan tetangga sekitar, yang kebetulan kelas ekonominya rendah alias banyak yang miskin.

Lebih konkretnya, mereka bukan selebritas, tapi gaya hidupnya sangat mirip selebritas, menggelar pesta mewah yang dihadiri tamu dari jauh-jauh. Sedangkan tetangga dekatnya yang miskin-miskin tak ada yang hadir karena memang tidak diundang.

Selain itu, hidangan pesta biasanya bukan makanan dan minuman lokal, melainkan makanan dan minuman impor yang populer di negara-negara maju. Mereka terkesan sangat bangga hendak menghapus identitas budaya bangsanya sendiri. Maka itu, jika masyarakat kita mudah latah atau suka meniru mereka, jati diri kebangsaan kita akan semakin cepat terhapus.

Jika masyarakat latah terhadap selebritas, tentu imbasnya akan sangat kompleks. Yang sangat memprihatinkan jika misalnya ada selebritas menjual diri dengan harga sangat mahal, tapi justru makin sering muncul menjadi bintang tamu dalam acara atau talk show tanpa malu bahkan terkesan bangga lantas masyarakat latah.

Read More »
13.13 | 0 komentar

Rabu, 11 November 2015

Membangunkan Jiwa Pahlawan Masa Kini

Herri Mauliza HR
Wasekjen Bidang Politik PB HMI 
Republika, 11 November 2015

"Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita." (Mohammad Hatta)

Embun pagi masih melekat di setiap permukaan dedaunan pada satu pagi, 10 November 1945. Belum juga hilang semangat para jamaah shalat Subuh yang berjalan kembali ke rumahnya dari langgar dan surau.

Kesejukan tersebut tiba-tiba menjadi hilang menyusul bergeloranya perlawanan para kaum muda terhadap serangan pasukan Inggris yang yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan di Surabaya. Diikuti kemudian dengan pengerahan 30 ribu infantri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Pasukan Inggris membombardir Kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat.

Upaya penyerangan ini di luar dugaan pihak Inggris yang menganggap bahwa Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari. Di Surabaya ada sejumlah tokoh, seperti pelopor muda Bung Tomo yang punya pengaruh besar di masyarakat. Mereka terus mengelorakan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya. Perlawanan pun terus berlanjut di tengah serangan skala besar pasukan Inggris.

Bukan hanya dari tokoh pemuda, melainkan juga kalangan alim ulama serta kiai pondok pesantren di Jawa, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, serta kiai dari pesantren lainnya juga mengerahkan santri mereka dan warga sipil sebagai milisi perlawanan. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini berlangsung hingga tiga minggu, sebelum seluruh Kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pasukan Inggris.

Peristiwa heroik ini kita namai dan peringati sebagai Hari Pahlawan. Tepat sudah 70 tahun berlalu, angka yang sama dengan usia kemerdekaan republik yang kita cintai, Indonesia. Spirit perjuangan itu sedang mengalami letargi. Imajinasi, kehendak, dan gagasan-gagasan besar tentang keindonesiaan selalu berakhir tragis seperti aborsi. Ide besar pembentukan republik seolah menjumpai generasi kerdil.

Memaknai kembali
Selama ini, Hari Pahlawan tetap diperingati sebagai upaya menjaga semangat militansi rakyat dalam menjaga kesatuan serta harkat dan martabat Republik Indonesia. Sang Proklamator kemerdekaan Ir Sukarno dalam sebuah pidatonya saat memperingati Hari Pahlawan pada 1961 mengumandangkan, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya."

Mereka adalah para pahlawan yang telah rela mengorbankan hidupnya demi menjaga dan mempertahankan negara Indonesia. Tanpa jasa mereka, kita tidak bisa menjadi bangsa dan negara seperti sekarang.

Semangat heroik para kaum muda dalam pertempuran menjaga kemerdekaan yang secara ringkas penulis gambarkan tadi semestinya menjadi motivasi besar bagi rakyat Indonesia saat ini. Tetes darah dan keringat dalam perjuangan bukan suatu penghalang dalam mencapai cita-cita berbangsa dan bernegara. Sekalipun masa perang kemerdekaan telah berlalu, pada generasi saat inilah tongkat estafet menjaga keutuhan bangsa ini dititipkan.

Kutipan dari Bung Hatta di awal tulisan ini sengaja saya letakkan di awal untuk mempertegas bahwa pahlawan dan kepahlawanan tidak hanya identik dengan orang-orang yang berjuang di medan perang yang bersifat heroik. Makna pahlawan yang tersirat dari pernyataan tersebut ialah pahlawan merupakan orang-orang yang dikenang karena kesetiaannya dalam perjuangan mencapai cita-cita. Cita-cita tersebut tidaklah lain meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Dalam kamus bahasa Indonesia pun sebenarnya telah melekatkan makna tersebut. Secara harfiah, pahlawan diartikan sebagai 'pejuang yang gagah berani; orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.' Kata 'kepahlawanan' diartikan dengan 'perihal yang berhubungan dengan pahlawan, seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban.'

Kalau dimaknai secara bebas, kata pahlawan adalah orang-orang yang berjuang dengan gagah berani dan menonjol karena keberaniannya untuk membela kebenaran. Oleh sebab itu, kata pahlawan berkaitan dengan orang-orang yang berjuang di jalan kebenaran.

Gerakan intelektual
Negeri ini sedang membutuhkan banyak pahlawan yang mewakafkan dirinya dalam mencapai cita-cita bangsa. Pahlawan yang mampu mewujudkan Indonesia yang adil dan beradab, Indonesia yang demokratis, dan Indonesia yang makmur. Perjuangan pahlawan pastilah dibingkai dalam khazanah pengetahuan dengan mengedepankan nilai-nilai kebenaran.

Arus globalisasi yang bergerak begitu cepat harus ditanggapi dengan cermat agar tidak tenggelam dalam jurang perkembangan zaman. Sebagai elemen harapan bangsa, pemuda semestinya berpartisipasi aktif dalam kemajuan bangsa ketimbang mengejar eksistensi pribadi. Sebab, jiwa kepahlawanan adalah merelakan diri melebur pada entitas baru, yakni "kita".

Dengan menumbuhkan jiwa kepahlawanan, pemuda tidak jadi penderita letargi dalam berbangsa. Kesadaran dan kesiagaan pemuda dalam berbangsa dapat dikuatkan melalui gerakan intelektual yang diperankan kaum pemuda itu sendiri.

Pada konteks saat ini, tradisi intelektual yang tumbuh di kalangan pemuda sesungguhnya harus dihadirkan dalam bentuk baru demi melakukan adaptasi gerak dinamika zaman dengan senantiasa mengedepankan nilai-nilai spiritual, kemanusiaan, dan kebangsaan, tetapi dengan format yang lebih kekinian.

Transformasi gerakan intelektual pemuda perlu digalakkan, khususnya menyangkut berbagai hal, seperti sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama (nilai spiritual). Sehingga, kelak dapat menyempurnakan referensi untuk memengaruhi proses-proses pengambilan kebijakan publik dan politik di sentra-sentra pemerintahan dan kemaslahatan rakyat di negeri ini.

Hal ini penting dilakukan sebagai kontinuitas perjuangan para pahlawan. Sebab, pemuda sebagai elemen kaum intelektual dan aset masa depan bangsa harusnya berani mewakafkan energi dan pengetahuannya untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Karena, sejatinya konsekuensi logis dalam gerakan intelektual bagi pemuda adalah adanya tanggung jawab sosial yang besar, yakni mengabdi pada kebenaran untuk kemaslahatan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Gerakan intelektual ini tidaklah lain sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia negeri ini. Daya saing bangsa kita di mata dunia dinilai dari kesejahteraan rakyat dan kemampuannya dalam mengelola sumber daya alam yang dimiliki. Memilih untuk melibatkan diri dalam perjuangan mewujudkan bangsa yang mandiri adalah jalan mulia bagi generasi muda.

Penulis ingin menegaskan bahwa setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Peletup semangat perjuangan menjadi pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam kehidupan. Jiwa kepahlawanan kita tumbuhkan dengan membiasakan diri dalam urusan kemaslahatan masyarakat banyak.

Membekali diri dengan pengetahuan dan bertanggung jawab pada nilai kebenaran. Melalui gerakan intelektual yang mulia, tanggung jawab yang ada pada generasi kita untuk mewujudkan Indonesia yang hebat, Indonesia yang bermartabat, bisa diraih.

Read More »
15.46 | 0 komentar

Ada Apa dengan Cina?

Kamal Ibrahim
Peneliti Junior Siber-C, Aktivis Kelompok Kepakaran Ekonomi Syariah SEBI–Dompet Dhuafa 


Di tengah melemahnya perekonomian Indonesia, pemerintah melakukan pinjaman kepada Cina melalui tiga BUMN. Bank Mandiri, BRI, dan BNI menjadi jaminan atas "gelontoran dana" sebesar tiga miliar dolar AS dari Cina.

Hingga Agustus 2015, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah mencapai Rp 2.850 triliun. Berkembang analisis, pinjaman melalui tiga bank BUMN itu sebagai langkah privatisasi secara soft yang dilakukan oleh pemerintah. Ketika pemerintah tidak bisa mengembalikan pinjaman dari China Development Bank, maka akan terjadi "tukar guling" antara utang dan saham tiga bank BUMN tersebut.

Pemerintah mengklaim telah mendapatkan dana murah dari Cina. Mereka hanya membayar bunga sebesar 2,8 persen. Entah karena ketidaktahuan pemerintah atau salah dalam perhitungan, Montenegro mendapatkan pinjaman dari Cina dengan bunga sebesar dua persen. Angka ini lebih rendah 0,8 persen dari total bunga yang dibebankan kepada Indonesia.

Selisih bunga sebesar 0,85 persen atau setara Rp 108 miliar jika dialokasikan untuk kegiatan produktif dapat menggairahkan ekonomi daerah. Dana yang diberikan Cina digunakan oleh Montenegro untuk membangun jalan tol sepanjang 170 kilometer. Namun, tidak ada "makan siang gratis" bagi Montenegro. Sebab, Pemerintah Cina hanya mengizinkan 30 persen pekerja lokal yang dilibatkan dalam proyek jalan tol tersebut.

Kejadian yang sama terjadi di Ekuador, sebuah negara yang berada di zona Concacaf. Mereka mendapatkan pinjaman dari Cina sebesar tujuh miliar dolar AS untuk pembangunan pipa penyulingan minyak. Pinjaman dana segar sebanyak ini "mustahil" mereka dapatkan dari kreditor lainnya karena melihat kondisi Ekuador yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan dana sebesar itu. Maka, tawaran dari Cina langsung mereka ambil walaupun ada beberapa persyaratan yang harus mereka penuhi.

Pemerintah Cina meminta 90 persen hasil minyak Ekuador untuk diekspor ke Cina dengan harga yang sudah mereka tentukan. Tidak hanya itu, para pekerja yang terlibat dalam proyek tersebut didominasi oleh warga Negeri Tirai Bambu.

Pertanyaan yang muncul di benak kita, konsekuensi apa yang diterima Indonesia atas pinjaman yang diberikan oleh Cina. Apakah mereka murni memberikan pinjaman tanpa harus memberikan syarat kepada Indonesia. Terbukti dalam sebuah proyek yang melibatkan Cina dalam pembangunan PLTU di Buleleng, Bali, tidak terlihat sama sekali pekerja asal Indonesia.

Data Bank Indonesia mencatat dari beberapa negara ASEAN yang mendapatkan investasi dari Cina, 31 persen investasi Cina berada di Indonesia. Angka ini mengalami kenaikan sejak 2010 sebesar 2,4 miliar dolar AS menjadi 9,7 miliar dolar AS pada Juli 2015. Arus investasi dari Cina dikhawatirkan menjadi salah satu alasan pekerja Cina untuk eksodus ke Indonesia. Hal itu dibantah oleh Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri atas adanya rumor eksodus pekerja Cina ke Indonesia.

Lagi-lagi, kita harus mengerutkan kening ketika pemerintah meloloskan Cina sebagai pemenang tender dalam proyek kereta cepat Jakarta–Bandung. Hal yang senada juga diungkapkan Jepang yang selama ini menjadi pelopor kereta cepat. Tidak tanggung-tanggung, nilai proyek kali ini mencapai lima miliar dolar AS atau setara Rp 78 triliun.

Pemerintahan Jokowi-JK memang sedang melakukan pembangunan infrastruktur sebagai penunjang pembangunan Indonesia. Tapi, seberapa pentingkah proyek yang sedang dijalankan ini? Jangan sampai pemerintah "setengah hati" dalam pembangunan kereta cepat.

Di sisi lain, pemerintah tidak memprioritaskan pembangunan infrastruktur di luar Jawa, pembangunan di Indonesia masih bersifat Jawa sentris, bukan Indonesia sentris menurut data yang dirilis oleh Biro Pusat Statistik. Share PDRB sebesar 57,5 persen berpusat di Jawa, bahkan Maluku hanya mendapatkan 0,8 persen.

Ketika proyek sebesar Rp 78 triliun didistribusikan kepada daerah-daerah di Sumatra, Kalimantan, hingga Papua untuk membangun moda transportasi kereta api, dipastikan akan membantu pertumbuhan ekonomi di pulau-pulau itu dan mengurangi kesenjangan di setiap daerah. Belum lagi, ketika masyarakat enggan untuk menggunakan kereta cepat Jakarta-Bandung karena cost yang cukup tinggi, dan juga banyak alternatif yang sudah ada.

Masalah lainnya akan timbul ketika kualitas kereta cepat buatan Cina yang tidak standar. Kita mengetahui ketika proyek Transjakarta dari Cina mengalami permasalahan karena banyak bus yang rusak. Pemerintah diminta untuk lebih selektif dalam menentukan sebuah proyek dan menimbang manfaat yang akan didapatkan.

Masalah pendanaan, pemerintah bisa menggunakan pembiayaan dalam negeri. Sebab, ketika kita mendapatkan pinjaman dari luar negeri akan ada konsensus yang harus kita sepakati. Hal itu akan merugikan Indonesia dalam hal ekonomi dan itu sudah menjadi rahasia umum.

Salah satu sektor yang belum dimaksimalkan pemerintah adalah sukuk government. Tingkat penyerapan obligasi syariah yang diterbitkan pemerintah oleh masyarakat cukup tinggi. Hal ini menandakan bahwa masyarakat percaya dengan kinerja pemerintah dalam pembangunan di Indonesia. Karena, sukuk government yang ada saat ini diterbitkan berdasarkan based on project dan adanya aset yang dijaminkan (underlying asset). Artinya, utang yang diterbitkan oleh pemerintah akan digunakan untuk pembangunan, dan nantinya akan dirasakan juga oleh masyarakat, antara pemerintah dan masyarakat saling diuntungkan.

Bandingkan dengan Malaysia yang sukuk government-nya dibeli kembali oleh BUMN mereka sendiri. Maka penerbitan sukuk government bisa menjadi salah satu solusi pemerintah dalam mencari pendanaan. Menurut Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Suminto, dana yang terserap dengan penjualan sukuk di Indonesia mencapai Rp 49 triliun.

Apalagi, pemerintah saat ini masih menggunakan pendanaan sukuk government dalam pembuatan kantor urusan agama di Indonesia timur. Tidak mustahil sukuk government dijadikan sebagai pendanaan pembangunan infrastruktur lainnya.

Read More »
15.36 | 0 komentar