Selamat datang di Blog Opini Koran Indonesia! | About Us | Contact | Register | Sign In

Rabu, 09 Desember 2015

Pohon: Antara Penghidupan dan Kehidupan

(Ditulis dalam Memperingati Hari Pohon Se-Dunia, 21 November 2015)

Hari ini, 21 November adalah peringatan Hari Pohon Sedunia. Menjadi penting untuk mengingatkan kita betapa bermanfaatnya pohon dalam kehidupan. Boleh kita mengatakan tidak ada pohon, tidak ada kehidupan.

Satu pohon menghasilkan Oksigen (O2) sebanyak 1,2 Kg/hari dan menyerap Karbondioksida (CO2) 14 Kg/tahun dari polusi udara yang dihasilkan dari pabrik dan kendaraan bermotor, serta menyerap debu. Jika satu pohon menghasilkan 1,2 kg oksigen per hari, orang bernafas hanya memerlukan 0,5 kg oksigen per hari. Artinya satu pohon kira-kira mampu menopang kehidupan dua orang.
Pohon tidak hanya bermanfaat bagi manusia. Ada mahluk hidup lain bergantung hidupnya dari pohon. Burung, serangga, ular, dan kera adalah beberapa contoh makhluk hidup itu. Ia (pohon) adalah aset bersama. Merusak satu pohon berarti ‘menghianati’ komitmen kepemilikan bersama dengan mahluk hidup lain.

Nyatanya karena superioritas manusia, seolah tak memperdulikan ‘kepentingan’ mahluk hidup lain. Mereka termarjinalkan, tak memiliki daya saat ‘dicurangi’ manusia. Mereka tak menerima hak hidup semestinya akibat keserakahan atas nama kebutuhan manusia.
Manusia sering lupa, Tuhan menciptakan segala sesuatu itu seimbang. Ekosistem di bumi kita berjalan baik karena tatanan yang sempurna. Keseimbangan ini juga menyebabkan daur biogeokimia berputar sesuai siklusnya. Mengesampingkan salah satu komponen, misalnya tidak mempedulikan mahluk hidup lain menjadikan tatanan alam berantakan, terjadi ketidak seimbangan di alam.

Kebakaran Hutan
Belum lama Indonesia disibukkan dengan kebakaran hutan. Salah satu penyebabnya ditengarai adanya campur tangan korporasi, disamping alam yang kurang bersahabat.
Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan luas area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi tahun 2015 sudah setara dengan 32 kali wilayah Provinsi DKI Jakarta atau empat kali Pulau Bali. Total hutan dan lahan yang terbakar sudah sebesar 2.089.911 hektare.

Jika 1 hektare terdapat 625 pohon dengan hitungan 25 x 25 pohon/hektare, maka terdapat 1.306.194.375 pohon yang hilang akibat kebakaran ini. Dan jika pada satu pohon tedapat seribu kehidupan mahluk, semisal semut dan serangga lain, kebakaran (pembakaran) hutan ini melenyapkan lebih dari 1 trilyun kehidupan mahluk hidup.

Untuk ‘penghidupan’ segelintir manusia, kebakaran hutan merupakan harga sangat mahal. Ini adalah ‘barter’ tak seimbang, sebuah kejahatan dan ‘dosa besar’, tidak hanya harus bertanggung jawab terhadap hukum tetapi juga terhadap banyaknya kehidupan mahluk hidup yang mereka hilangkan. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintah harus bertindak mengusut sampai tuntas jika memang tidak menjadi backing dalam kejahatan korporasi ini.

Surga Kita
Kita lupa bahwa banyak negara lain mendamba memiliki ‘surga’ seperti Indonesia. Saat saya melakukan perjalanan Umrah, di negara Arab untuk sekedar perawatan satu pohon membutuhkan biaya mahal. Pipa-pipa air dipasang sepanjang pohon ditanam untuk mengairi secara periodik. Di Indonesia yang orang bilang tongkat saja dilempar jadi tanaman, kita kadang dengan begitu mudah memangkas, menebang, bahkan membakarnya. Seolah tak memikirkan bagaimana episode kehidupan selanjutnya.

Keaneka ragaman fauna yang kita miliki begitu luar biasa. Ini tidak lepas juga dari biodiversitas tumbuhan yang dimiliki Indonesia. Jika kekayaan ini tidak dirawat, bisa jadi anak–cucu kita tidak merasakan ‘surga’ nya Indonesia. Hanya sekedar mendengar bahwa dulu Indonesia indah luar biasa.
Mulai hari ini, mari kita budayakan menanam pohon untuk menambah biodiversitas di muka bumi kita, khususnya Indonesia. Jika tak mampu menanam, minimal jangan merusak, memotong, atau menebang pohon. Berpikirlah seribu kali jika akan menebang pohon, karena boleh jadi ada ribuan mahluk hidup berada di pohon itu.

Mari kita sayangi alam, agar alam dan Pencipta alam menyayangi kita. Jangan sampai karena kelalaian, kesalahan dan keserakahan kita, ‘Dia’ murka meluluh-lantakkan alam hingga kehidupan tak lagi ada.

Mustahib; Guru Biologi, Blogger Indonesia
Share this article now on :

Posting Komentar