Selamat datang di Blog Opini Koran Indonesia! | About Us | Contact | Register | Sign In

Minggu, 13 Desember 2015

Peka

Belakangan saya cukup aktif berada di sebuah chat room. Jangan ditanya tujuannya untuk apa saya berada di ruang mengobrol itu. Saya yakin, Anda pasti sudah tahu. Yaaa… Anda benar saya sedang mencari teman.

Kalau cocok, yaa… saya terbuka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih dari sekadar teman biasa. Macam jenjang pendidikan. Setelah S-1 kalau bisa ya S-2. Dan kalau masih bisa maju lagi, yaa S-3.

”Enggak suka, ya?”

Tentu masuk ke sebuah ruang mengobrol saya perlu memberikan informasi soal umur, fisik, dan secara singkat keinginan saya untuk bertemu dengan teman-teman yang seperti apa. Karena saya ini sudah setengah abad lebih, saya itu lebih menyukai yang seusia atau paling tidak sebelas dua belaslah dengan usia saya.

Tetapi, apa kenyataannya? Data pribadi itu tak berguna sama sekali. Yang ingin mengobrol dan bertemu lebih banyak adalah mereka yang berusia antara 20 dan 30-an. Awalnya saya meladeni, la wong cuma mau berteman. Apa salahnya? Tetapi, setelah beberapa kali dijalani, banyak ketidakcocokannya.

Setelah itu, setiap kali ada yang berusia muda mengajak saya ngobrol, saya malah menegur mereka untuk membaca biodata yang telah saya tuliskan. Biasanya mereka minta maaf, kemudian menghilang untuk sementara waktu, kemudian muncul lagi.

Kedatangan yang berulang itu mengundang kekesalan. Maka saya langsung menghapus pesan mereka tanpa membacanya. Tetapi, tampaknya, menyerah itu tidak ada di dalam kamus mereka. Saya tidak tahu mengapa. Padahal saya ini jelek, pendek, dan jauh dari kaya raya.

Sangat jamak ketika saya tidak membalas pesan yang ditulis, maka mereka akan mengirim pesan seperti ini. ”Kok enggak dibalas sih, Mas? Enggak suka ya?” Nah, kalimat inilah yang menginspirasi saya untuk curhat lagi dengan Anda sekalian hari ini.

Sungguh saya tidak tahu, dan sama sekali belum terinspirasi untuk menanyakan kepada mereka, mengapa mereka itu tak bisa peka atau tidak mau peka, bahwa kalau saya tidak membalas itu berarti saya memang tidak tertarik. Saya tidak membalas itu sebagai ’bahasa isyarat’ kalau saya ini tidak lagi berkeinginan berkomunikasi dengan mereka.

Bahasa nurani

Di suatu hari saya berpikir, ah… sungguh tidak benar kalau saya hanya menghapus pesan mereka dan tidak menjelaskan alasan saya tidak membalasnya. Maka saya menjelaskan bahwa saya ini tidak tertarik. Penjelasan itu saya tulis dengan menggunakan bahasa yang sopan.

Karena saya sungguh mengerti, ditolak itu lumayan membuat kepercayaan drop seperti tekanan darah karena saya pernah mengalaminya. Rasanya seperti ditimpuk bola kasti dan kemudian mulai merasa kalau saya ini tak bernilai.

Hasil dari memberi penjelasan itu pun tidak menolong sama sekali. Karena semangat yang tinggi, beberapa di antara mereka menganggap penjelasan itu sebagai sebuah jalan untuk membuka obrolan kembali. Beberapa malah menawarkan berkenalan lebih jauh dulu sebelum saya memutuskan untuk menolak. Saya sampai geleng kepala.

Apa yang mereka lakukan membuat saya berpikir, mengapa mereka sampai sebegitu ngotot, dan seperti menutup mata dan hati, dan tidak peduli dengan apa yang telah saya lakukan. Mengapa mereka bertanya kepada saya, ”Enggak suka ya, Mas?”, tetapi tidak mempertanyakan diri sendiri, mengapa saya sampai harus menghabiskan waktu untuk berkenalan dengan orang yang sama sekali tidak berniat berkenalan dengan saya?

Apakah mereka memiliki agenda tersembunyi yang jahat atau begitu kesepiannya? Apakah mereka sangat membutuhkan pasangan hidup karena perjalanan asmara yang kering kerontang sehingga ngotot menjadi sebuah harapan untuk tidak kering dan kerontang? Sejujurnya di saat perasaan ini jengkel setengah mati, ada perasaan sedih yang menyelinap.

Saya pernah ada di posisi mereka. Ketika kebutuhan utama akan teman atau yang lebih dari teman tak bisa terpenuhi, sehingga perasaan kesepian itu seperti tak bedanya dengan kanker yang menggerogoti. Apalagi, usia makin lama tidak makin bertambah muda.

Gara-gara peristiwa itu, saya jadi kena batunya. Nurani saya langsung mengambil kesempatan untuk bertanya sekaligus menyindir. Umumnya malah banyak niat menyindirnya daripada bertanya. ”Emang kamu peka?”

Nurani itu terus berkicau. ”Elo tu gak peka lagi. Sama sekali tidak.” Setelah sindiran itu berhenti, saya harus mengakui banyak hal yang saya hadapi setiap hari dengan ketidakpekaan. Bahasa tubuh, gerakan tangan, bibir atau pesan yang tak dibalas yang dilakukan oleh klien, teman usaha, staf di kantor, orang yang sedang saya taksir, sering kali tak saya pahami.

Padahal, mereka sedang mengomunikasikan sesuatu, hanya saja mereka tak mau terus terang karena bisa jadi takut saya tersinggung, atau bisa jadi melindungi saya dari merasa tak punya kepercayaan diri kalau ’ditembak’ langsung.

Saya harus lebih banyak belajar mengerti bahasa yang ’halus’ itu. Sebuah bahasa yang harus dikomunikasikan dan dirasakan dengan kepekaan nurani, yang tak akan menusuk seperti belati, yang tidak memekakkan telinga seperti petir menyambar, tetapi menyelamatkan keberadaan orang.

Samuel Mulia  ;  Penulis Kolom “PARODI” Kompas Minggu
KOMPAS, 13 Desember 2015

Read More »
17.31 | 0 komentar

Minggu, 06 Desember 2015

”War”

Berkecukupan tidak berarti berbahagia, kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup dalam ketenangan. Demikian pesan yang dikirimkan seorang teman yang setia nyaris setiap pagi bertahun lamanya mengirimkan pesan-pesan mulia yang memberi kekuatan.

Perjuangan

Beberapa minggu sebelum itu, saya membaca kalimat yang ditulis seorang teman di media sosial miliknya. ”Make love not war”. Seperti biasa, setelah membaca pesan-pesan itu saya manggut-manggut tanda setuju. Tetapi, karena kebiasaan sifat yang telat mikir, maka ketika tak sengaja saya membaca kembali pesan-pesan itu, mulailah otak ini berpikir keras.

Otak yang tak bisa berhenti berpikir itu mengawali dengan sebuah pertanyaan. ”Bukannya peperangan, pertikaian, permusuhan awalnya terjadi gara-gara cinta ya, Bro? Jadi semakin elo make love semakin make war.” Pertanyaan yang begini ini suka menghasilkan sakit kepala.

Tiga tahun lalu saya pernah jatuh cinta. Dan hubungan kami lebih dari sekadar sahabat. Sekali waktu saya memperkenalkannya kepada salah seorang teman dekat. Singkat cerita, saya merasa sejak perkenalan itu terjadi, ia juga menaruh perasaan yang sama seperti saya.

Bahkan, ia menunjukkan perasaan itu di sebuah media sosial kalimat yang saya yakin Anda ketahui sebagai sebuah kalimat orang yang sedang mencoba untuk menunjukkan hati yang kasmaran, berupa perhatian.

Nah, karena saya merasakan gelagatnya itu, saya mulai melakukan strategi ”perang’ untuk tidak membiarkan orang yang saya cintai direbut orang lain. Apalagi beberapa orang menasihati saya, kalau kamu benar jatuh cinta, maka perjuangkan itu. Maka di masa tiga tahun lalu itu, saya maju ke medan laga untuk memperjuangkan sesuatu yang saya anggap pantas untuk diperjuangkan.

Pertama, perang ringan terjadi dengan manusia yang saya cintai itu, kemudian disusul dengan memusuhi teman yang sekali waktu itu sungguh dekat dengan saya. Permusuhan itu bahkan berlanjut sampai hari ini dan mengajari saya untuk tidak memercayai orang bahkan teman yang dekat sekalipun. Peperangan itu juga telah mengajarkan agar saya berhati-hati memperkenalkan pasangan hidup kepada orang lain.

Menghalau musuh

Saya mengerti bahwa cinta itu datangnya tak bisa diketahui, dan kita tidak pernah mengetahui kepada siapa kita akan jatuh cinta. Kalau berbicara dari kacamata teman dekat saya itu, pernyataan itu sungguh benar adanya, bahkan ia tak bisa disalahkan. Karena ia sendiri mungkin tak menduga bakal jatuh cinta dengan orang yang saya cintai.

Tetapi, manusia itu suka lupa kalau cinta itu bisa membutakan. Buta itu mampu membuat seseorang tega memancing peperangan dan menjadi tidak peduli. Terus mengapa saya ini perlu sampai berperang dan tak mengalah saja?

Meski saya cemburu, saya maju ke medan laga bukan untuk menunjukkan kecemburuan, tetapi sebuah aksi untuk memperjuangkan apa yang pantas saya perjuangkan, serta membela dan melindungi orang yang saya cintai dan diri saya sendiri. Saya ini jomblo selama berabad-abad, jadi saya harus melindungi diri agar tidak jomblo lagi.

Karena orang kalau jomblo kelamaan seperti saya, cara pandangnya berbeda. Sekali mendapatkan kesempatan jatuh cinta, maka perjuangan untuk mempertahankannya akan kencang seperti tsunami, karena takut kalau sampai jomblo lagi dan berlangsung berabad-abad.

Kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup dalam ketenangan. Kalimat itu juga menggelitik otak saya semakin bawel. Saya sangat setuju pada akhirnya ketenangan itu yang dicari. Dalam kasus saya, kecemburuan dan permusuhan terjadi karena ketenanganlah yang saya cari. Karena kalau saya tidak tenang, saya tidak bisa tidur, tidak bisa makan, menjalani hidup dengan gelisah, dan akhirnya tidak menghasilkan kebahagiaan.

Ketenangan tidak dihasilkan dengan diam tenang. Dalam kasus saya, saya hadapi permasalahannya, terjadi friksi dengan orang yang saya cintai, dan saya memutuskan untuk menjauhi teman dekat saya itu sebagai sebuah usaha untuk tidak dekat lagi pada sumber petaka. Karena kalau saya membiarkan persahabatan itu terjadi, saya hanya melakukan aksi bunuh diri. Sebuah aksi untuk membiarkan diri saya untuk tidak tenang dan tidak berbahagia.

Setelah semua ’peperangan’ itu saya lakukan, saya menjadi tenang, saya menemukan ketenangan dan saya berbahagia. Pertikaian itu pun dilakukan ibu saya, sampai ia beradu mulut dengan seorang penjaga toko kain karena mengatai anak laki-lakinya seperti perempuan.

Peperangan kecil itu saya yakini juga karena cinta, sebuah bentuk pembelaan dan sebuah bentuk mencari ketenangan. Karena saya yakin kalau ia tak mengonfrontir penjaga toko itu, ia pasti pulang dengan rasa kesal. Nah, peperangan itu kadang mesti dilakukan agar kekesalan itu tidak berlarut dan diam bercokol.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba hati saya bertanya. Apakah perang, pertikaian, twitwar, atau apa pun bentuk permusuhan yang saya lihat dan baca belakangan ini juga didasari karena cinta, serta untuk mendapati ketenangan dengan berusaha menjauhkan sumber petaka yang membuat mereka tak bisa tenang?

Nah, kalau saya yang giliran bertanya dan bingung seperti ini dan tak bisa mendapat jawaban, otak saya diam sejuta bahasa. Hilang seperti ditelan bumi dan meninggalkan saya dalam kekesalan.

Samuel Mulia  ;  Penulis Kolom”Parodi” Kompas Minggu
KOMPAS, 06 Desember 2015

Read More »
21.34 | 0 komentar