Republika; Senin, 16 November 2015, 13:00
Jumat (13/11) malam waktu setempat, Kota Paris, Prancis, dirundung duka dan diselimuti suasana mencekam. Kota yang terkenal karena keromantisannya itu justru dipenuhi dengan air mata setelah terjadi serangan teroris di enam lokasi yang berbeda.
Selama beberapa saat, terdengar rentetan suara tembakan jenis AK-47 dan ledakan di enam bagian kota, yaitu Rue de Charonne, Boulevard Voltaire, Bataclan Theater, Rue Fontaine du Roi, dan Le Petit Cambodge. Ratusan orang luka dan tewas akibat kejadian itu.
Selain banyaknya korban jiwa, serangan tersebut juga lagi-lagi melukai rasa keamanan dan toleransi antaragama di Prancis dan juga dunia internasional. Apalagi setelah muncul kabar bahwa kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas rangkaian serangan teror tersebut.
Karena ISIS kerap mengatasnamakan Islam dalam melakukan aktivitas terornya, serangan Paris membuat sebagian orang mengarahkan telunjuknya kepada Islam. Oleh mereka, umat Muslim yang berjumlah lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia dianggap ikut bertanggung atas serangan tersebut.
Tak mengherankan jika akibat serangan tersebut, masyarakat Muslim di Prancis kembali ketakutan, setelah sebelumnya kerap menjadi sasaran kemarahan masyarakat akibat penyerangan kelompok teroris terhadap kantor majalah Charlie Hebdo dan supermarket Yahudi di Paris, pada awal tahun ini.
Kita yakin, bahwa tak ada satu pun ajaran agama di dunia yang mengajarkan untuk melakukan kekerasan, khususnya Islam. Karena pada dasarnya, agama mengajarkan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhannya, dengan manusia lain, dan dengan lingkungannya.
Ajaran agama yang paling utama dalam hubungan itu adalah bagaimana setiap manusia dapat hidup dengan damai di dunia dan bisa mendapatkan kedamaian di akhirat. Karenanya, menjadi tak adil jika kemudian menggeneralisasi beberapa tindakan kekerasan (meskipun mengatasnamakan agama) sebagai bagian dari ajaran suatu agama tertentu.
September lalu, seorang akademisi Universitas California, Reza Aslan, pernah memberikan jawaban mengenai banyaknya pertanyaan dan bahkan tuduhan bahwa Islam identik dengan kekerasan. Dalam jawabannya, ia tidak menjawab dengan dalil atau doktrin agama apa pun, melainkan murni menggunakan logika sederhana.
"Islam tidak mempromosikan kekerasan. Islam hanya agama seperti setiap agama yang ada di dunia, tergantung pada apa yang kamu bawa. Jika kamu orang yang membawa kekerasan, kamu Islam, Yahudi, Kristen atau Hindu, akan tetap menjadi orang penuh dengan kekerasan," kata Aslan.
Pernyataan yang sama sebenarnya telah sempat juga disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama kepada delegasi yang hadir saat Konferensi Gedung Putih Melawan Kekerasan Ekstremisme, medio Februari lalu. Ia menolak jika aksi teror yang terjadi di berbagai belahan dunia kemudian dianggap sebagai bagian dari ajaran agama tertentu.
Ia juga menegaskan, saat ini dunia bukan tengah berperang melawan Islam, melainkan melawan mereka yang menyelewengkan Islam. "No religion is responsible for terrorism—people are responsible for violence and terrorism," kata Obama
Tak bisa kita mungkiri, masih ada orang yang merasa takut dengan Islam karena melihat aksi-aksi teror yang mengatasnamakan Islam. Namun, banyak masyarakat dunia yang justru melihat bahwa aksi teror sama sekali tak terkait dengan ajaran Islam, atau ajaran agama manapun. Bahwa terorisme tak memiliki agama.
Coba saja tengok berbagai ocehan masyarakat di media sosial. Sebuah tanda pagar (tagar) atau hashtag #TerrorismHasNoReligion yang menjadi trending topic di Twitter menjadi bukti bahwa masyarakat memandang aksi terorisme tidak dengan sudut pandang agama. Melainkan murni sebagai aksi kejahatan yang tidak sesuai dengan prinsip kemanusiaan.
Posting Komentar