Selamat datang di Blog Opini Koran Indonesia! | About Us | Contact | Register | Sign In
 IndonesiaHalaman Indonesia        EnglishHalaman B.Inggris

ADMIN

Kirim Pesan YM

Minggu, 13 Desember 2015

Peka

Belakangan saya cukup aktif berada di sebuah chat room. Jangan ditanya tujuannya untuk apa saya berada di ruang mengobrol itu. Saya yakin, Anda pasti sudah tahu. Yaaa… Anda benar saya sedang mencari teman.

Kalau cocok, yaa… saya terbuka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih dari sekadar teman biasa. Macam jenjang pendidikan. Setelah S-1 kalau bisa ya S-2. Dan kalau masih bisa maju lagi, yaa S-3.

”Enggak suka, ya?”

Tentu masuk ke sebuah ruang mengobrol saya perlu memberikan informasi soal umur, fisik, dan secara singkat keinginan saya untuk bertemu dengan teman-teman yang seperti apa. Karena saya ini sudah setengah abad lebih, saya itu lebih menyukai yang seusia atau paling tidak sebelas dua belaslah dengan usia saya.

Tetapi, apa kenyataannya? Data pribadi itu tak berguna sama sekali. Yang ingin mengobrol dan bertemu lebih banyak adalah mereka yang berusia antara 20 dan 30-an. Awalnya saya meladeni, la wong cuma mau berteman. Apa salahnya? Tetapi, setelah beberapa kali dijalani, banyak ketidakcocokannya.

Setelah itu, setiap kali ada yang berusia muda mengajak saya ngobrol, saya malah menegur mereka untuk membaca biodata yang telah saya tuliskan. Biasanya mereka minta maaf, kemudian menghilang untuk sementara waktu, kemudian muncul lagi.

Kedatangan yang berulang itu mengundang kekesalan. Maka saya langsung menghapus pesan mereka tanpa membacanya. Tetapi, tampaknya, menyerah itu tidak ada di dalam kamus mereka. Saya tidak tahu mengapa. Padahal saya ini jelek, pendek, dan jauh dari kaya raya.

Sangat jamak ketika saya tidak membalas pesan yang ditulis, maka mereka akan mengirim pesan seperti ini. ”Kok enggak dibalas sih, Mas? Enggak suka ya?” Nah, kalimat inilah yang menginspirasi saya untuk curhat lagi dengan Anda sekalian hari ini.

Sungguh saya tidak tahu, dan sama sekali belum terinspirasi untuk menanyakan kepada mereka, mengapa mereka itu tak bisa peka atau tidak mau peka, bahwa kalau saya tidak membalas itu berarti saya memang tidak tertarik. Saya tidak membalas itu sebagai ’bahasa isyarat’ kalau saya ini tidak lagi berkeinginan berkomunikasi dengan mereka.

Bahasa nurani

Di suatu hari saya berpikir, ah… sungguh tidak benar kalau saya hanya menghapus pesan mereka dan tidak menjelaskan alasan saya tidak membalasnya. Maka saya menjelaskan bahwa saya ini tidak tertarik. Penjelasan itu saya tulis dengan menggunakan bahasa yang sopan.

Karena saya sungguh mengerti, ditolak itu lumayan membuat kepercayaan drop seperti tekanan darah karena saya pernah mengalaminya. Rasanya seperti ditimpuk bola kasti dan kemudian mulai merasa kalau saya ini tak bernilai.

Hasil dari memberi penjelasan itu pun tidak menolong sama sekali. Karena semangat yang tinggi, beberapa di antara mereka menganggap penjelasan itu sebagai sebuah jalan untuk membuka obrolan kembali. Beberapa malah menawarkan berkenalan lebih jauh dulu sebelum saya memutuskan untuk menolak. Saya sampai geleng kepala.

Apa yang mereka lakukan membuat saya berpikir, mengapa mereka sampai sebegitu ngotot, dan seperti menutup mata dan hati, dan tidak peduli dengan apa yang telah saya lakukan. Mengapa mereka bertanya kepada saya, ”Enggak suka ya, Mas?”, tetapi tidak mempertanyakan diri sendiri, mengapa saya sampai harus menghabiskan waktu untuk berkenalan dengan orang yang sama sekali tidak berniat berkenalan dengan saya?

Apakah mereka memiliki agenda tersembunyi yang jahat atau begitu kesepiannya? Apakah mereka sangat membutuhkan pasangan hidup karena perjalanan asmara yang kering kerontang sehingga ngotot menjadi sebuah harapan untuk tidak kering dan kerontang? Sejujurnya di saat perasaan ini jengkel setengah mati, ada perasaan sedih yang menyelinap.

Saya pernah ada di posisi mereka. Ketika kebutuhan utama akan teman atau yang lebih dari teman tak bisa terpenuhi, sehingga perasaan kesepian itu seperti tak bedanya dengan kanker yang menggerogoti. Apalagi, usia makin lama tidak makin bertambah muda.

Gara-gara peristiwa itu, saya jadi kena batunya. Nurani saya langsung mengambil kesempatan untuk bertanya sekaligus menyindir. Umumnya malah banyak niat menyindirnya daripada bertanya. ”Emang kamu peka?”

Nurani itu terus berkicau. ”Elo tu gak peka lagi. Sama sekali tidak.” Setelah sindiran itu berhenti, saya harus mengakui banyak hal yang saya hadapi setiap hari dengan ketidakpekaan. Bahasa tubuh, gerakan tangan, bibir atau pesan yang tak dibalas yang dilakukan oleh klien, teman usaha, staf di kantor, orang yang sedang saya taksir, sering kali tak saya pahami.

Padahal, mereka sedang mengomunikasikan sesuatu, hanya saja mereka tak mau terus terang karena bisa jadi takut saya tersinggung, atau bisa jadi melindungi saya dari merasa tak punya kepercayaan diri kalau ’ditembak’ langsung.

Saya harus lebih banyak belajar mengerti bahasa yang ’halus’ itu. Sebuah bahasa yang harus dikomunikasikan dan dirasakan dengan kepekaan nurani, yang tak akan menusuk seperti belati, yang tidak memekakkan telinga seperti petir menyambar, tetapi menyelamatkan keberadaan orang.

Samuel Mulia  ;  Penulis Kolom “PARODI” Kompas Minggu
KOMPAS, 13 Desember 2015

Read More »
17.31 | 0 komentar

Minggu, 06 Desember 2015

Mempersiapkan Kematian

Beberapa rekan dengan usia di atas 60 tahun membicarakan mengenai menghadapi kematian. Yang lain terlihat enggan membahasnya karena malah menimbulkan ketakutan dan kesedihan, sama dengan perasaan kehilangan ketika ditinggal pergi oleh orang-orang terdekatnya. Bagaimana dengan Anda?

Kematian adalah suatu kepastian, tak seorang pun dapat menghindarinya. Hanya kapan datangnya, tak ada manusia yang dapat memperkirakan secara pasti. Merupakan sesuatu yang wajar apabila pada masa mendekati usia harapan hidup rata-rata manusia, kita mulai memikirkan dan membahasnya. Namun, beberapa orang yang tidak ingin membahas, mungkin mengalami penyangkalan terhadap kematian itu sendiri, menutup mata dan hati untuk membicarakannya.

Judy Tatelbaum (1980), ahli pekerja sosial di bidang psikiatri, mengatakan, sering kali penyangkalan kita terhadap kematian justru akan mencegah kita dari sepenuhnya mengalami dan menyelesaikan kesedihan kita. Dari sekian banyak manfaat yang kita peroleh dengan menerobos penyangkalan kita dari kematian, yang paling penting adalah kemungkinan menjalani hidup tanpa rasa takut. Tanpa takut pada kematian, kita dapat hidup dengan lebih semangat dan dapat mengambil lebih banyak kesempatan untuk mencapai pertumbuhan dan pengayaan.

Dengan tidak takut pada kematian, kita bisa mengambil risiko lebih dalam dan hubungan yang lebih dekat dengan orang lain, kita dapat memperoleh kehidupan sebagai sesuatu yang berharga, bukan sesuatu yang biasa saja. Maka kita memiliki kesempatan lebih besar untuk memenuhi apa pun yang mungkin menjadi takdir kita. Ketika kita menghadapi hidup dengan berani, tidak takut, kita merasa lebih sempurna, bijaksana, dan lebih kuat.

Mengatasi penyangkalan

• Langkah awal yang disarankan Tatelbaum (1980) adalah memunculkan keinginan dapat menghadapi kematian secara tepat. Hanya dengan niat itu, kita dapat mengambil tindakan. Berperilaku seolah-olah kita menerima kenyataan kematian dapat menjadi cikal bakal benar-benar merasakan penerimaan tersebut.

Pertama kali mungkin dengan membaca buku-buku tentang kematian dan menjelang kematian. Kemudian kita dapat mendiskusikan kematian secara terbuka dengan kawan-kawan karib, orangtua, anak-anak, pasangan, dan teman-teman. Kita dapat mengambil tanggung jawab untuk menulis surat wasiat. Kita bisa mempersiapkan kepemilikan dan surat-surat penting untuk kemungkinan kematian kita. Menulis surat wasiat itu sendiri merupakan pengakuan bahwa kita berharap akan mati. Sebuah wasiat juga merupakan tanda dari pertimbangan mendalam kita pada orang yang kita cintai.

• Kita dapat menghadapi kematian secara langsung melalui berbicara dengan orang-orang yang tengah menghadapi ajalnya, yang berada dalam pergolakan kesedihan, atau yang sehari-hari bekerja dengan orang yang tengah menghadapi ajalnya. Kita pun dapat mempelajari sikap kita sendiri tentang kematian dan menghadapi ajal. Jadi kita dapat berbagi dengan yang lain tentang kematian.

Bagi banyak dari kita, berbicara tentang perasaan kita adalah suatu cara untuk memperjelas berbagai perasaan tersebut dan memahami diri sendiri secara lebih baik. Juga, berbicara tentang kematian dalam suatu percakapan normal bisa menjadi sangat membebaskan, memungkinkan kita untuk menerima kematian sepenuhnya sebagai suatu fakta kehidupan. Menjadi terbuka pada semua masalah ini akan membantu kita, menimbulkan kenyamanan dan juga membantu untuk keberlangsungan hidup kita selanjutnya.

Latihan mengenali perasaan

Tatelbaum juga memberi latihan untuk membantu memeriksa ide-ide kita, juga sikap, keyakinan, dan perasaan tentang kematian, dengan menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan kematian. Kata-kata yang kita gunakan atau tidak gunakan sering menunjukkan perasaan kita itu nyaman atau tidak nyaman. Kata yang berhubungan dengan kematian dalam masyarakat kita sering lebih berupa suatu ungkapan daripada sesuatu yang bersifat langsung dan faktual.

Cobalah menggunakan semua kata-kata tersebut, baik mengucapkannya dengan suara keras maupun secara tertulis. Ujilah perasaan kita saat mengungkapkan setiap kata. Beberapa kata tersebut adalah:

”Meninggal, menjelang ajal/sekarat, sudah pergi, kehilangan, absen, selesai, almarhum, dimakamkan, dikremasi, dibunuh, ditinggalkan, berduka, berkabung”.

Anda dapat menambahkan kata-kata lain pada daftar tadi. Bagaimana rasanya masing-masing? Mana yang paling sulit untuk dikatakan? Mana yang mudah? Mana yang membuat tidak ada reaksi tertentu? Mana yang Anda hindari, atau ingin hindari? Perhatikan mana kata-kata yang sulit bagi Anda, dan pertimbangkan arti yang Anda berikan pada kata-kata itu. Anda mungkin menemukan diri Anda mengingat sesuatu dari masa lalu Anda. Anda juga mungkin memperhatikan adanya suatu area ketakutan. Yang paling penting, biarkan diri Anda sendiri untuk menguji perasaan yang timbul dari latihan ini.

Untuk menjadi lebih akrab dan nyaman dengan kata-kata yang berhubungan dengan kematian, gunakan kata-kata tersebut dalam kalimat. Pertama perhatikan kata-kata yang menghasilkan kecemasan pada Anda dalam latihan sebelumnya. Sekarang tempatkan kata-kata itu menjadi kalimat yang mungkin berarti untuk Anda. Tuliskan atau ucapkan kalimat tersebut beberapa kali dan lihat bagaimana reaksi Anda. Misalnya, ”Suami saya sudah meninggal”, ”Sahabat saya dimakamkan”, ”Ibu saya telah pergi”.

Latihan ini memiliki dua tujuan. Tujuan dari bagian pertama adalah untuk menurunkan rasa mudah terpengaruh pada kata-kata tentang kematian, untuk membantu Anda mulai berdamai dengan kematian sebagai suatu kenyataan dan dengan berbagai konsep yang merupakan bagian dari kematian.

Bagian kedua, yang lebih sulit dari latihan ini memungkinkan Anda untuk mulai lebih jujur dengan diri sendiri dan mengakui bahwa orang yang Anda cintai telah meninggal atau justru akan mati. Bagi kita semua ini adalah realitas yang berat untuk dihadapi.

Banyak dari kita hanya membayangkan bahwa kita akan mati lebih dahulu, sehingga kita tidak perlu menderita rasa sakit kehilangan. Atau kita menyangkal bahwa kita atau orang yang kita cintai akan benar-benar meninggal. Begitu kita mulai menerima gagasan bahwa orang yang kita cintai akan mati, bagaimanapun, kita telah memiliki kesempatan untuk memperluas hubungan tersebut saat ini.

Ketika kita mengakui bahwa ada batasan waktu, kita sering menjadi lebih bersedia untuk menempatkan energi penuh kita ke dalam hubungan bersama, untuk bekerja menyelesaikan masalah, dan untuk berbagi perasaan positif dan negatif secara lebih penuh. Kita juga menjadi bersedia menyelesaikan urusan yang belum selesai dalam hubungan akrab kita.

Mari saling mempersiapkan diri.

Agustine Dwiputri  ;  Penulis Kolom”Psikologi” Kompas Minggu
KOMPAS, 06 Desember 2015

Read More »
21.36 | 0 komentar

”War”

Berkecukupan tidak berarti berbahagia, kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup dalam ketenangan. Demikian pesan yang dikirimkan seorang teman yang setia nyaris setiap pagi bertahun lamanya mengirimkan pesan-pesan mulia yang memberi kekuatan.

Perjuangan

Beberapa minggu sebelum itu, saya membaca kalimat yang ditulis seorang teman di media sosial miliknya. ”Make love not war”. Seperti biasa, setelah membaca pesan-pesan itu saya manggut-manggut tanda setuju. Tetapi, karena kebiasaan sifat yang telat mikir, maka ketika tak sengaja saya membaca kembali pesan-pesan itu, mulailah otak ini berpikir keras.

Otak yang tak bisa berhenti berpikir itu mengawali dengan sebuah pertanyaan. ”Bukannya peperangan, pertikaian, permusuhan awalnya terjadi gara-gara cinta ya, Bro? Jadi semakin elo make love semakin make war.” Pertanyaan yang begini ini suka menghasilkan sakit kepala.

Tiga tahun lalu saya pernah jatuh cinta. Dan hubungan kami lebih dari sekadar sahabat. Sekali waktu saya memperkenalkannya kepada salah seorang teman dekat. Singkat cerita, saya merasa sejak perkenalan itu terjadi, ia juga menaruh perasaan yang sama seperti saya.

Bahkan, ia menunjukkan perasaan itu di sebuah media sosial kalimat yang saya yakin Anda ketahui sebagai sebuah kalimat orang yang sedang mencoba untuk menunjukkan hati yang kasmaran, berupa perhatian.

Nah, karena saya merasakan gelagatnya itu, saya mulai melakukan strategi ”perang’ untuk tidak membiarkan orang yang saya cintai direbut orang lain. Apalagi beberapa orang menasihati saya, kalau kamu benar jatuh cinta, maka perjuangkan itu. Maka di masa tiga tahun lalu itu, saya maju ke medan laga untuk memperjuangkan sesuatu yang saya anggap pantas untuk diperjuangkan.

Pertama, perang ringan terjadi dengan manusia yang saya cintai itu, kemudian disusul dengan memusuhi teman yang sekali waktu itu sungguh dekat dengan saya. Permusuhan itu bahkan berlanjut sampai hari ini dan mengajari saya untuk tidak memercayai orang bahkan teman yang dekat sekalipun. Peperangan itu juga telah mengajarkan agar saya berhati-hati memperkenalkan pasangan hidup kepada orang lain.

Menghalau musuh

Saya mengerti bahwa cinta itu datangnya tak bisa diketahui, dan kita tidak pernah mengetahui kepada siapa kita akan jatuh cinta. Kalau berbicara dari kacamata teman dekat saya itu, pernyataan itu sungguh benar adanya, bahkan ia tak bisa disalahkan. Karena ia sendiri mungkin tak menduga bakal jatuh cinta dengan orang yang saya cintai.

Tetapi, manusia itu suka lupa kalau cinta itu bisa membutakan. Buta itu mampu membuat seseorang tega memancing peperangan dan menjadi tidak peduli. Terus mengapa saya ini perlu sampai berperang dan tak mengalah saja?

Meski saya cemburu, saya maju ke medan laga bukan untuk menunjukkan kecemburuan, tetapi sebuah aksi untuk memperjuangkan apa yang pantas saya perjuangkan, serta membela dan melindungi orang yang saya cintai dan diri saya sendiri. Saya ini jomblo selama berabad-abad, jadi saya harus melindungi diri agar tidak jomblo lagi.

Karena orang kalau jomblo kelamaan seperti saya, cara pandangnya berbeda. Sekali mendapatkan kesempatan jatuh cinta, maka perjuangan untuk mempertahankannya akan kencang seperti tsunami, karena takut kalau sampai jomblo lagi dan berlangsung berabad-abad.

Kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup dalam ketenangan. Kalimat itu juga menggelitik otak saya semakin bawel. Saya sangat setuju pada akhirnya ketenangan itu yang dicari. Dalam kasus saya, kecemburuan dan permusuhan terjadi karena ketenanganlah yang saya cari. Karena kalau saya tidak tenang, saya tidak bisa tidur, tidak bisa makan, menjalani hidup dengan gelisah, dan akhirnya tidak menghasilkan kebahagiaan.

Ketenangan tidak dihasilkan dengan diam tenang. Dalam kasus saya, saya hadapi permasalahannya, terjadi friksi dengan orang yang saya cintai, dan saya memutuskan untuk menjauhi teman dekat saya itu sebagai sebuah usaha untuk tidak dekat lagi pada sumber petaka. Karena kalau saya membiarkan persahabatan itu terjadi, saya hanya melakukan aksi bunuh diri. Sebuah aksi untuk membiarkan diri saya untuk tidak tenang dan tidak berbahagia.

Setelah semua ’peperangan’ itu saya lakukan, saya menjadi tenang, saya menemukan ketenangan dan saya berbahagia. Pertikaian itu pun dilakukan ibu saya, sampai ia beradu mulut dengan seorang penjaga toko kain karena mengatai anak laki-lakinya seperti perempuan.

Peperangan kecil itu saya yakini juga karena cinta, sebuah bentuk pembelaan dan sebuah bentuk mencari ketenangan. Karena saya yakin kalau ia tak mengonfrontir penjaga toko itu, ia pasti pulang dengan rasa kesal. Nah, peperangan itu kadang mesti dilakukan agar kekesalan itu tidak berlarut dan diam bercokol.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba hati saya bertanya. Apakah perang, pertikaian, twitwar, atau apa pun bentuk permusuhan yang saya lihat dan baca belakangan ini juga didasari karena cinta, serta untuk mendapati ketenangan dengan berusaha menjauhkan sumber petaka yang membuat mereka tak bisa tenang?

Nah, kalau saya yang giliran bertanya dan bingung seperti ini dan tak bisa mendapat jawaban, otak saya diam sejuta bahasa. Hilang seperti ditelan bumi dan meninggalkan saya dalam kekesalan.

Samuel Mulia  ;  Penulis Kolom”Parodi” Kompas Minggu
KOMPAS, 06 Desember 2015

Read More »
21.34 | 0 komentar

Kesadaran

Seminggu lalu, di tengah gelap-gulitanya situasi internasional, tiba-tiba tampil di peta dunia beberapa kedipan sinar harapan. Dari mana dipancarkannya? Dari delapan perwakilan Indonesia di Amerika dan Eropa. Ya, pada 28 November 2015, mereka serentak merayakan jatuhnya Hari Raya Saraswati, hari raya Hindu Bali yang menyambut ”turunnya” pengetahuan untuk mencerahkan manusia. Pancasila ternyata berfungsi: hari raya Hindu pun dirayakan secara besar-besaran di perwakilan luar negeri, lengkap dengan pidato dan kegiatan budaya. Suatu tanda pencerahan luar biasa.

Namun, hal-ihwal Saraswati dan ”pencerahan” tidak terhenti pada segi etnis-religius Bali saja. Perayaan Saraswati melambangkan Pengetahuan bukan hanya sebagai ilmu, melainkan lebih jauh lagi sebagai ”kesadaran”, sikap ”eling” yang hendaknya menghuni pikiran manusia. Sikap itu ”diajarkan” melalui salah satu mitos kunci dari tradisi Jawa-Bali—mitos pengadaban yang sebanding dengan mitos Oedipus di dalam tradisi Yunani.

Simak inti mitos tersebut: Ditinggal oleh ayahnya, Giriswara, Watugunung diasuh oleh ibu kandungnya, Sinta, dan Landep, ibu tirinya. Dia bersikap ”raksasa”. Maka ibunya memukul kepalanya. Watugunung meninggalkan Sinta dan Landep dan akhirnya bertapa. Tapanya sedemikian hebat sehingga kahyangan oleng-kemoleng. Terganggu, Batara Siwa turun dan bertanya kepada Watugunung: ”Apakah kau ingin suatu anugerah?” Titahnya, ”Maka kau akan mengalahkan ke-27 raja yang berkuasa atas negeri-negeri di Mayapada, tetapi kau akhirnya akan dikalahkan makhluk berkepala penyu….”

Watugunung memang menjadi penguasa ke-27 negeri. Akan tetapi, keserakahan terus menghinggapinya. Ketika diberi tahu bahwa ”di seberang gunung hidup dua ratu cantik”. Watugunung memeranginya, demi menikahi kedua ratunya…. Loh, apa hasil kemenangannya? Ketika di peraduan, apa yang dilihat oleh ratu pertama, yang tiada lain adalah Sinta, sebuah parut luka yang aneh: astaga, insyaflah dia telah bersetubuh dengan anaknya! Menyadari aib takdirnya, Sinta dan Landep mencari jalan keluar. Ditantanglah Watugunung: ”O Watugunung, kami hanyalah wanita biasa. Yang pantas kamu nikahi bukanlah kami, melainkan sang dewi Nawang Ratih, istri dari Batara Wisnu?”

Dewa Wisnu murka. Menyusullah perang dahsyat. Wisnu menampakkan diri sebagai makhluk berkepala penyu. Lalu Watugunung terbunuh. Namun, berkali-kali menyongsong ajal, sang raksasa dihidupkan kembali berkat intervensi Siwa yang akhirnya bersabda: ”Hai Wisnu, janganlah kau membunuh Watugunung. Jadikanlah dia penguasa kalender dan berikan namanya pada minggu penutup kalender, dan nama ibu serta ibu tirinya pada kedua minggu awal kalender, disusul raja-raja taklukannya. Lebih penting lagi, jadikanlah hari terakhir kalender ini sebagai hari Pengetahuan, Hari Saraswati…”.

Hari Saraswati melambangkan pencerahan, yaitu timbulnya kesadaran adab multi-bentuk pada diri manusia, yaitu kesadaran tentang pantangan seksual, terutama inses; kesadaran tentang perlunya pembagian waktu, melalui kalender; serta kesadaran tentang pentingnya aturan sosial dan agama. Ajaran ini menarik dibandingkan dengan sekilas dengan ajaran mitos Oedipus dari tradisi Yunani. Keduanya sama-sama mengutuk inses. Namun, berbeda dengan Oedipus yang membutakan diri setelah tahu telah meniduri ibunya, Wutugunung sebaliknya tercerahkan. Lalu bila Oedipus berontak terhadap takdir dan para dewata—jalur pengadaban antroposentris kebudayaan Barat, sebaliknya Watugunung membuka jalur pengadaban dalam dan melalui agama (Dewi Saraswati)—jalur pengadaban kosmo dan agama sentris dari kebudayaan Timur.

Maka, jangan keliru, yang utama pada Saraswati bukanlah segi Hindu-nya, bukanlah pula pengetahuan sebagai jumlah ajaran yang harus diketahui, melainkan lebih jauh pengetahuan sebagai ”kesadaran” nan eling, sebagai upaya mengatasi keraksasaan dan mengangkat hasrat spiritual yang hadir terbenam di dalam jati diri kita setiap manusia. Kesadaran tersebut hadir pada Pancasila dan telah hadir pula pada keputusan Deparlu untuk merayakan Saraswati di Eropa dan Amerika sana. Maka, bravo Indonesia.

Namun, ketahuilah pula Saudaraku bahwa di mana pun kita berada, apakah di sini dalam diri ataupun di Paris, Suriah atau Poso sana, tetap berkeliaran aneka raksasa.

Jean Couteau  ;  Penulis Kolom”UDAR RASA” Kompas Minggu
KOMPAS, 06 Desember 2015

Read More »
07.14 | 0 komentar