Selamat datang di Blog Opini Koran Indonesia! | About Us | Contact | Register | Sign In

Senin, 16 November 2015

Setiap Kesulitan Punya Jalan Keluar

Oleh: Dahlan Iskan


SUDAH satu bulan lamanya ahli ekonomi dunia menunggu dengan harap-harap cemas. Permainan kungfu apa yang akan diperlihatkan Tiongkok untuk mengalahkan musuh ekonominya yang sangat sulit diatasi saat ini: jebakan utang.

Sebagian ahli sudah meramal, kinilah saatnya Tiongkok benar-benar akan hancur. Tidak mampu keluar dari kesulitan yang begitu sulit dan menjebak.

Rupanya, devaluasi mata uang yuan hampir 2 persen yang diumumkan dua hari lalu itulah jurus kungfu yang dimainkan. Untuk keluar dari puncak kesulitannya saat ini. Cerdas sekali.

Tiongkok selama ini memang dikenal selalu punya jurus baru. Selalu bisa mementahkan keraguan para analis ekonomi dunia. Dari negara yang begitu miskin dengan beban penduduk yang begitu besar, mestinya tidak mungkin Tiongkok bisa keluar dari kemiskinan. Apalagi dalam waktu yang begitu cepat. Bahkan berhasil menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia dalam waktu singkat.

Tapi, belakangan ini persoalan ekonomi yang dihadapi Tiongkok begitu berat. Bahkan sudah terlihat melingkar-lingkar, membelit dan membelenggu. Sampai mencapai tahap yang disebut "jebakan utang".

Utang Tiongkok yang semula dipakai untuk membiayai kemajuannya itu kini sudah sampai pada tingkat menjebaknya. Pelaku ekonomi, pelaku keuangan, juga pelaku pasar modal menanti-nanti dengan saksama jurus apa yang disiapkan Tiongkok untuk keluar dari jebakan itu.

Begitu beratnya persoalan itu, sampai ada yang bertanya begini: Mungkinkah kali ini Tiongkok juga berhasil melakukan chi kung untuk melompati jebakan itu? Atau kali ini akan gagal?

Rupanya, inilah yang dilakukan Tiongkok: devaluasi. Memang kurang dari 2 persen, tapi cukup mengguncangkan dunia. Bisa-bisa memicu perang mata uang dunia. Bisa-bisa kita yang berada di Indonesia tiba-tiba saja jadi korban perang. Kita tidak boleh diam.

Kita di Indonesia saat ini juga sedang menghadapi satu jenis jebakan yang kelasnya lebih rendah daripada itu: jebakan kelas menengah. Tiongkok sudah berhasil mengatasi jebakan itu 15 tahun yang lalu. Sehingga pembangunan ekonominya tidak terhenti di tengah jalan. Berhasil terus tumbuh tinggi. Hingga mencapai prestasinya sekarang ini.

Kita masih harus mencari jurus untuk mengatasi jebakan kelas menengah kita itu. Kalau berhasil, kita akan bisa terus meraih kemajuan. Kalau gagal, langkah kita akan terhenti. Dan kita akan terbelit dengan persoalan yang muter-muter. Bisa berpuluh tahun lamanya.

Kalau dengan devaluasi itu berhasil mengatasi jebakan utangnya, Tiongkok akan terus berkembang menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia. Mengalahkan Amerika Serikat. Dalam waktu hanya 15 tahun.

Kalau kali ini gagal mengulang sukses melewati jebakan-jebakannya, Tiongkok terpaksa akan mengalami apa yang pernah dialami Jepang. Pertumbuhan ekonominya berhenti. Selama 20 tahun.

Sejak tahun 1990-an sampai menjelang 2010 lalu, ekonomi Jepang hanya tumbuh nol persen (kadang sedikit di atas nol, kadang minus sedikit di bawah nol). Waktu itu, kalau orang Jepang menempatkan uang di bank, bukannya mendapat bunga, bahkan harus membayar uang administrasi.

Tapi, jangan dibayangkan hal itu menjadi sebuah bencana. Berhentinya ekonomi Jepang adalah berhentinya ekonomi sebuah negara yang telanjur menjadi kaya raya. Ia tidak menjadi miskin. Hanya berhenti untuk menjadi lebih kaya lagi.

Demikian juga Tiongkok nanti. Kalaupun Tiongkok kali ini gagal keluar dari jebakan utang, itu akan mirip dengan apa yang dialami Jepang. Jangan-jangan memang begitulah hukum alam untuk menjadi negara kaya. Harus melewati satu masa konsolidasi yang sulit, menyakitkan dan panjang.

Bedanya, saat Jepang mengalami itu, demokrasinya sudah sangat matang. Tiongkok belum menjadi negara demokrasi. Entah itu kekuatan atau kelemahan. Mungkin saja itu justru menjadi kekuatan daripada, misalnya, masih dalam status negara demokrasi setengah matang.

Jebakan utang Tiongkok itu terlihat dari angka ini:

1. Utang negara dan utang perusahaan di Tiongkok sudah mencapai USD 26 triliun. Tertinggi di dunia.

2. Utang itu sudah mencapai rasio 250 persen dari GDB Tiongkok yang sekitar USD 10 triliun.

3. Rasio sebesar itu  dalam doktrin negara-negara Eropa sudah memasuki tahap yang perlu di-bailout. Artinya, kalau tidak di-bailout, memasuki tahap kebangkrutan.

4. Untuk menurunkan rasio itu, utangnya tidak boleh tambah, tapi ekonominya harus tumbuh tinggi. Atau, utangnya boleh tambah sedikit, tapi pertumbuhan ekonominya harus tumbuh besar.

5. Secara teori, tanpa tambah utang, ekonomi tidak mungkin tumbuh. Di sinilah jebakannya itu.

6. Suku bunga harus rendah. Tapi, tanpa utang baru, likuiditas akan ketat. Itu berarti suku bunga pinjaman atau obligasi akan terpaksa tinggi. Di sini terlihat juga jebakannya.

Kenyataan di atas sudah mirip persoalan ayam dan telur. Bahkan sudah masuk ke persoalan buah simalakama. Hanya, berbeda dengan negara lain, masih banyak faktor positif yang dimiliki Tiongkok:

1. Cadangan devisanya USD 4 triliun. Tertinggi di dunia. Negara lain akan berada dalam bahaya kalau cadangan devisanya hanya cukup untuk membiayai impor selama dua minggu. Cadangan devisa Tiongkok itu bisa digunakan untuk membiayai impornya selama, wooww, beberapa tahun.

2. Hitungan GDB Tiongkok tadi belum termasuk kekayaan CIC, perusahaan investasi negara yang melakukan investasi di luar negeri.

3. Pengendalian jumlah penduduknya berhasil. Karena itu, pemberian izin untuk memiliki lebih dari satu anak dilakukan dengan sangat selektif.

4. Utang-utang luar negeri tersebut umumnya berbentuk mata uang renminbi/yuan. Bukan dolar. Itu tidak akan menggerus cadangan devisa.

Saya sudah menduga Tiongkok akan memainkan yuan untuk mengatasi jebakan utangnya itu. Tapi, saya tidak menduga kalau devaluasi yang akhirnya dilakukan.

Semua kesulitan ternyata ada jalan keluarnya. Setinggi apa pun kesulitan itu.

Read More »
13.18 | 0 komentar

Selembar Surat untuk Masa Depan Penyakit Tropis

Oleh: Dahlan Iskan
16 November 2015

DIA seorang profesor, doktor, dan dokter. Pekerjaannya mengajar, bertugas di rumah sakit, dan melakukan penelitian mengenai berbagai penyakit.

Saya bisa membayangkan betapa supernya orang seperti itu. Atau, sebaliknya, betapa sulitnya menyusun prioritas.

Tapi, apa pun tugas profesor, doktor, dan dokter itu, ternyata yang paling menentukan adalah ini: dari mana SK kepegawaiannya. Dari menteri kesehatankah? Dari menteri pendidikankah? Dari (dulu) Kementerian Ristek-kah?

Yang paling sulit adalah kalau tugas utamanya di lembaga penelitian, tapi SK kepegawaiannya dari menteri pendidikan atau menteri kesehatan.

Lembaga penelitian penyakit seperti ini akan sulit maju. Fondasinya keropos: sulit cari dokter yang mau jadi peneliti. Kalau toh ada yang mau, sifatnya sementara. Atau dirangkap alias sambilan.

Mengapa? Masa depan peneliti bidang kedokteran tidak menarik. Setidaknya tidak mungkin jadi profesor.
Jalur birokrasinya tidak ada. Di Kementerian Pendidikan atau juga di Kementerian Kesehatan tidak dikenal pintu peneliti yang bisa jadi guru besar. Peneliti yang bisa jadi guru besar hanya yang bekerja di LIPI.

Untung saya ikut meninjau rumah sakit-rumah sakit pendidikan di Universitas Airlangga, Sabtu lalu. Bersama Menteri Kesehatan Prof Nila Djuwita Moeloek.

Saya jadi tahu posisi dan problem rumah sakit pendidikan, terutama yang memiliki perhatian khusus bidang penelitian.

Selama ini saya hanya tahu di Surabaya ada RSUD dr Soetomo yang terkenal itu.

Di berbagai negara maju, saya tahu rumah sakit pendidikan (teaching hospital) memang bisa lebih terkenal daripada rumah sakit umum. Ini karena dokter peneliti terbaik ada di situ. Dokter konsultan terbaik ada di situ.

Ide membangun teaching hospital di Indonesia sangatlah jelas: agar mahasiswa kedokteran, dokter yang mau jadi spesialis, dan para peneliti bidang kesehatan memiliki lapangan yang sepenuhnya diabdikan untuk kepentingan kemajuan kedokteran.

Tapi, rumah sakit itu belum menyediakan pintu yang cukup untuk lari. Pintu menjadi profesor dan pintu untuk masa depan serta kesejahteraan dokternya.

Di negara maju, dokter di rumah sakit pendidikan sama sekali tidak punya kaitan dengan jumlah pasien atau lamanya penanganan terhadap seorang pasien.

Satu profesor yang hanya bisa menangani satu pasien dalam satu minggu (karena rumitnya penyakit yang diidap) tidak akan menurun pendapatannya dibanding yang menangani banyak pasien dalam sehari.

Kita masih harus berjuang keras untuk sampai ke sana. Tapi, setidaknya keberadaan teaching hospital sudah terwujud.

Memang ada problem birokrasi yang rumit. Entah bagaimana menyelesaikannya. Ahli manajemen harus tertarik untuk memberikan ide penyelesaian benang kusut ini.

Kalau di rumah sakit umum, persoalan birokrasinya lebih sederhana: satu Kementerian Kesehatan.

Komplikasinya paling hanya dengan kewenangan daerah. Tapi, teaching hospital ini menyangkut kesehatan, pendidikan, dan penelitian.

Dulu terkait dengan tiga kementerian. Sekarang, mestinya, lebih sederhana. Kemenristek sudah digabung dengan pendidikan tinggi.

Saya lihat menteri kesehatan sudah banyak mencatat ketika rektor Unair yang akuntan itu, Prof Dr Moh Nasih SE MT Ak CMA, melaporkan kemajuan-kemajuan lembaganya.

Tentu kita berharap banyak pada pusat-pusat kajian di rumah sakit pendidikan seperti itu. Misalnya, seperti yang dipamerkan Sabtu lalu, ditemukannya obat-obat untuk malaria, HIV, hepatitis C, hepatitis B, dan demam berdarah.

Semua itu penyakit khas negara tropis. Dunia Barat kurang tertarik mengerahkan perhatiannya ke penyakit-penyakit tropis. Kecuali terhadap HIV yang ternyata banyak juga menyerang orang Barat.

Namun, penemuan-penemuan itu masih baru tahap awal. Masih harus dilanjutkan dengan penelitian dan uji-uji berikutnya. Dengan serius. Namun, seperti kata Prof Dr Maria Inge Lucida, ketua Pusat Penyakit Tropis Unair, di lembaga itu sulit mencari peneliti penuh waktu.

Yang ada sekarang, 40 orang, semuanya kerja rangkap. “Mereka pada lari. Ya soal masa depan tadi,” ujar Prof Lucida.

Padahal, hanya negara tropis seperti kita yang seharusnya lebih memperhatikan penyakit-penyakit khas negara tropis.

Dengan kondisi seperti itu pun, Unair sudah bisa melahirkan peneliti stem cell yang begitu hebat. Kelas dunia.

Apalagi kalau nanti persoalan birokrasi tadi bisa diselesaikan. Hanya butuh selembar surat keputusan. Yang tidak ada risikonya.

Read More »
13.16 | 0 komentar