Tidak murid tidak guru, saat diselenggarakan ujian untuk mengukur kompetensi secara nasional, ada saja oknum kasak-kusuk mencari bocoran soal dan jawabannya. Beredarnya soal UKG hasil jepretan kamera adalah salah satu bentuk kecurangan dalam menghadapi UKG, sekaligus menggambarkan budaya (masih) instan dalam dunia pendidikan kita.
UKG seharusnya tidak dipandang sebagai sebuah beban bagi guru, seperti gengsi jika nilainya jelek, takut dianggap tidak pandai, masyarakat tidak percaya lagi dengan guru, dan lain sebagainya. Dalam pernyataan resmi Kemdikbud menyampaikan bahwa UKG bukan untuk mempermalukan guru, tetapi justru mengangkat derajat guru dan meningkatkan kompetensi guru. Guru yang nilainya di bawah standar kompetensi (5,5) akan diberikan pelatihan.
Gengsi, jika memicu semangat belajar akan menjadi pemotivasi yang baik. Namun jika karena gengsi kemudian menghalalkan segala macam cara untuk memperoleh nilai baik dalam UKG, ini yang tidak dibenarkan. Jika hal ini dilakukan, perbaikan kualitas pendidikan tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun.
Belajar dari Ujian Nasional tahun-tahun lalu yang ditengarai terselenggara dengan berbagai macam kecurangan, tidak menghasilkan apa-apa kecuali data abnormal yang berbalik dari kenyataan. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan rata-rata nilai UN murni SMP tahun 2011 dan 2012 masing-masing sebesar 7,88 dan 7,47. Data ini menunjukkan kemampuan anak-anak kita baik. Bahkan kita jumpai nilai 9 dan 10 menjadi suatu pemandangan biasa pada UN. Ini tentu gambaran membanggakan bagi kita (jika benar). Anak-anak kita tampak pintar luar biasa.
Namun nyatanya pada tahun yang sama (2012) peringkat PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara yang berpartisipasi. Urutan kedua terendah diatas Peru. Tes ini diperuntukkan untuk pelajar usia 15 tahun di masing-masing negara peserta, menilai kemampuan membaca, matematika, dan sains.
Saatnya kita melupakan gengsi. Jika UKG secara nasional kurang bagus, kita akui saja kompetensi para guru memang perlu ditingkatkan. Kita tidak perlu memaksa pembuat kebijakan UKG (pemerintah) untuk melihat menggunakan kacamata ‘hijau’ agar nilai kita tampak ‘hitam’, yang nyatanya ‘merah’.
Berani mengakui kekurangan dan ketertinggalan pendidikan adalah langkah awal untuk memperbaiki bangsa ini. Selanjutnya dengan rendah hati mari kita belajar dari negara-negara yang memiliki pendidikan terbaik. Kita terapkan dan sesuaikan dengan kekhasan bangsa kita. Termasuk dalam penyempurnaan Kurikulum Nasional yang akan kita gunakan ke depan.
Kita juga tidak perlu malu belajar dari Malaysia yang dulu pernah belajar dari kita. Namun tetap dengan semangat ‘balas dendam’, “Tidak lama lagi pendidikan Indonesia akan mengungguli Anda!”
Mustahib, Guru Blogger Indonesia
Posting Komentar